Bermimpi Jadi Ahli Tafsir Al-Qur’an, Santriwati Al-Yasini Tidur 3 Jam Sehari

3652
“Selagi ada kesempatan, saya tak boleh menyia-nyiakannya. 30 juz hafalan ini nanti akan kupersembahkan semata hanya untuk orang tua,”

Laporan: Ardiana Putri

USIANYA belum genap 17 tahun, tapi Faiqotun Nasihah telah menghafal 24 Juz Al-Qur’an. Ia bertekad untuk menghafal seluruhnya sebelum lulus jenjang SMA. Segala aral dan onak bukannya tak pernah ia temui. Namun, santri kelas 12 yang menempuh pendidikan di SMA Excellent Al Yasini ini, hanya fokus pada satu tujuannya, mempersembahkan hafalan 30 juz pada kedua orangtuanya.

Faiq, sapaan akrab santri asal Mayangan Probolinggo ini, memang sejak kecil bercita-cita untuk berjuang di jalan agama. Usut punya usut, tujuan mulianya ini dilatarbelakangi karena vakumnya pondok pesantren milik ayahnya sendiri.

“Di kediaman saya, abah dulu sempat mengelola pondok. Tapi sekarang sudah vakum, masih belum ada yang mau meneruskan,” ungkapnya.

Dawuh sang ibu juga selalu terngiang di telinga Faiq. Pernah suatu hari, saat ia masih duduk di kelas 9 SMP, ibundanya sempat menyampaikan keinginannya agar anaknya itu menjadi Hafidzah. Hal itu yang akhirnya melecut semangat Faiq untuk lebih serius untuk belajar Tahfidz.

Menurutnya, menghafal Qur’an harus punya komitmen dan disiplin tinggi. Tugasnya sebagai santri di pondok sekaligus siswa di SMA membuat ia harus bekerja lebih keras. Namun, itu semua tak dianggapnya sebagai beban.

“Ranking saya sempat jeblok sampai 20, biasanya hanya berputaran di angka 1-5. Saya menganggap ini ujian untuk saya, hikmahnya saya harus lebih pandai mengatur waktu,” tuturnya.

Paham jika pencapaiannya ini didapatkan dengan tidak instan, ia pun berbagi sedikit pengalaman. Setiap hari, Faiq harus menjalani hari-harinya yang padat. Kegiatan pondok yang berakhir pukul 10.00 WIB malam tak lantas membuatnya berleha-leha, kemudian tidur. Dirinya harus belajar untuk pelajaran sekolah esok hari, ditambah belajar untuk setor hafalan. Tak pelak ia hanya tidur tiga jam sehari, jam 12.00 WIB hingga 3.00 WIB dini hari.

“Selagi ada kesempatan, saya tak boleh menyia-nyiakannya. 30 juz hafalan ini nanti hanya kupersembahkan semata hanya untuk orang tua,” tandasnya.

Faiq memang dikenal sebagai santri berprestasi. Menurut Dian Octa, guru matematika di SMA Excellent, Faiq merupakan siswa teladan dan multi talenta. Santri penyuka tahu tek ini juga menjadi ikon di Al Yasini.

“Beberapa kali menjadi perwakilan lomba pidato Bahasa Arab dan Alhamdulilah sering menang. Selain itu, dia juga pernah mengikuti lomba debat PKN, bahasa Inggrisnya juga mantab,” ungkap Dian bangga.

Dian menambahkan, jika santrinya ini juga pernah bandel. Beberapa kali Faiq meninggalkan kelas dan ternyata sedang nongkrong di kantin sekolah.

Ditanya mengenai cita-cita ke depannya, siswa peraih beasiswa ini ingin melanjutkan studinya di UIN dan mengambil jurusan Tafsir Qur’an. Ia juga ingin menjadi ustadzah yang dikenal hingga ke luar negeri. (*)