Berkah Jilbab Ibu-ibu di Sidogiri

1101
Ibu-ibu di Sidogiri saat menunjukkan kreasinya menyulam jilbab.
Perkembangan variasi jilbab masa kini membuka geliat perekonomian baru. Tak hanya anak muda yang menikmati ragam motif jilbab melalu jualan online. Ibu-ibu di Sidogiri tak mau kalah mendapatkan rezeki dari lahan ini.

Laporan : Emil Akbar

JILBAB bukan hanya untuk menutup aurat kewajiban para muslimah, namun membawa rezeki bagi para ibu-ibu di kawasan Pondok Pesantren Sidogiri. Tepatnya di Dusun Wangkal, Desa Sidogiri, Kecamatan Kraton, setiap harinya ibu-ibu memiliki kesibukan khusus selain mengurus rumah tangga. Mereka menyulam jilbab atau kerudung dengan motif beragaram.

Jumlahnya pun tak sedikit, namun sudah mencapai ratusan jilbab. Sulam jilbab ini menjadi tambahan penghasilan para wanita selain didapatkan dari suaminya.

Luluk Romziah (40), salah satu warga RT 01 RW 03, berhasil mempekerjakan ratusan ibu-ibu, tetangga di sekitar tempat tinggalnya. Sudah 12 tahun, Luluk bergelut dengan dunia menyulam, lantaran kadung cinta dengan penutup kepala tersebut.

“Awalnya saya ikut orang bikin sulam, dan lama kelamaan saya ingin membuat usaha sendiri, supaya bisa mandiri dan dapat  tambahan penghasilan yang lebih banyak,” kata Luluk.

Perempuan ini lantas memulai usaha kecil-kecilan. Ia bahkan sempat pergi ke Bangil, untuk mencari ide dan inspirasi motif sulam. Namun tak disangka, jalan-jalannya kali itu berujung berkah. Luluk mendapatkan pesanan sulam jilbab sebanyak 5 kodi dari salah satu toko. Hal ini lantaran tempat yang dikunjunginya tertarik dengan kerudung yang dikenakan Luluk.

“Saya masih ingat, order pertama saya adalah membuat sulam sebanyak 5 kodi. Kalau satu kodi kan 20 jilbab, berarti saya dapat order 100 jilbab yang harus saya sulam. Wah bahagia sekali,” ungkapnya.

Harga yang ditawarkan untuk satu jilbab berkain paris, hanya sebesar Rp 25 ribu hingga Rp 45 ribu. Tergantung motif yang diinginkan oleh pemesan jilbab. Variasi yang dipesan pun beragam, meski rata-rata lebih suka motif Bunga.

“Kebanyakan memang motif bunga, karena jilbab dipakai perempuan, sehingga terkesan indah dan cantik,” pungkasnya.

Mulai dari motif bunga tulip, mawar, sedap malam, hingga hewan ubur-ubur. Sementara selain menawarkan ragam motif, cara menyulam yang dilakukan Luluk pun berbeda. Ada yang dinamakan sulam bayang (menyulam dari depan tapi hasilnya terlihat di belakang), dan ada juga Sulam Bulion (menyulam dari depan hasilnya juga di depan).

Saat ini, usaha kecil-kecilan yang dibangun Luluk sudah mulai besar. Pesanan 5 kodi, berkembang menjadi lebih dari 500 jilbab selama sebulan. Itu pun tidak semua terpenuhi, lantaran tenaga yang dibutuhkan tidak cukup untuk menampung banyaknya pesanan.

“Menyulam itu susah mas kalau tidak telaten (sabar dan ulet), karena ibu-ibu di sini menyulam sambil ngemong anak (mengasuh). Sehari hanya dua sulaman saja,” singkat Luluk sembari menunjukkan hasil sulamannya.

Sementara itu, dalam satu bulan, perempuan berhijab ini bisa meraup keuntungan bersih antara Rp 3 juta-Rp 5 juta. Keuntungan tersebut selain ditabung, juga untuk membeli kerudung, benang sulam dan keperluan lainnya.

“Alhamdulillah bisa buat menyekolahkan anak dan memberdayakan ibu-ibu sekitar. Lumayan lah buat tambahan penghasilan selain dari suami,” pungkasnya. (*)