Tepis Stigma Negatif Terhadap Penderita HIV/AIDS

0
161
Ilustrasi penularan HIV/AIDS.
Stigma negatif terhadap penderita HIV/AIDS terlanjur melekat. Masyarakat menganggap mereka yang terpapar virus ini adalah orang-orang nakal, penyakit ini menular dan mematikan sehingga penderitanya harus dijauhi. Ini keliru. Karena rumusnya adalah “jauhi penyakitnya, bukan orangnya”.

Laporan: Ardiana Putri

PENYEBARAN HIV/AIDS seringkali masih belum dipahami secara benar oleh masyarakat. Bahkan stigma yang ditujukan kepada pengidap HIV/AIDS cenderung negatif. ODHA atau orang dengan HIV/AIDS, dijauhi karena dianggap membawa penyakit menular dan mematikan.

Lantas, bagaimana sebenarnya penularan HIV/AIDS?

Konselor HIV/AIDS Kota Pasuruan, dr. Dharmayanti memberi penjelasan dalam sebuah sosialisasi tentang HIV/AIDS kepada masyarakat, perwakilan lembaga swadaya masyarakat Se-Kota Pasuruan.

Human Immunodeficiency Virus atau HIV adalah virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia. Virus HIV menyerang sel T, salah satu bagian sel darah putih. Terkait HIV, dr. Dharmayanti menyampaikan, pemahaman awam sering salah kaprah, menganggap HIV dan AIDS adalah sama, padahal itu adalah dua hal yang berbeda.

Acquired immunodeficiency syndrome atau AIDS adalah kondisi yang timbul karena rusaknya sistem pertahanan tubuh akibat virus HIV. Perbedaan AIDS dan HIV adalah, orang dengan HIV bisa tetap hidup normal asalkan menjalani pengobatan yang sesuai.

Secara tegas, ia menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan para peserta sosialisasi. Di antaranya tentang mitos-mitos seputar penularan HIV/AIDS.

“Apakah HIV/AIDS dapat menular saat kita berenang di kolam pemandian umum, lewat pisau cukur, dan facial?” tanya seorang peserta kepada dr. Dharmayanti.

Dokter yang bertugas di Puskesmas Trajeng, Kota Pasuruan itu kemudian mengajak semua peserta agar segera menepis terlebih dahulu, tentang anggapan atau stigma negatif yang ditujukan kepada ODHA.

“Stigma negatif kadung melekat dalam pemahaman masyarakat mengenai penderita HIV/AIDS. Penderita yang terpapar virus ini adalah orang-orang nakal, penyakit ini menular dan mematikan sehingga penderitanya harus dijauhi. Ini keliru. Jauhi penyakitnya, bukan orangnya,” tandasnya.

Dokter Dharmayanti menjelaskan kemudian, tak akan menjadi masalah jika seseorang bertemu, bahkan harus berenang bersama ODHA, karena virus HIV mudah mati di air kolam renang yang mengandung kaporit, apalagi dengan kadar yang tinggi.

Memakai pisau cukur bergantian dengan ODHA tidak akan menularkan virus. Sebab, virus mudah mati di udara bebas. Tetapi memakai pisau cukur bergantian tidak disarankan demi alasan kebersihan, “lebih baik memang kita membawa silet sendiri,” imbuhnya.

Untuk facial atau perawatan wajah, jika menggunakan jarum, ada baiknya alat-alat untuk facial harus distrerilisasi terlebih dahulu. Darah yang masih melekat di jarum dapat menularkan HIV. Bisa disebabkan pada proses facialnya, saat sang terapis akan mengeluarkan jerawat, dengan memencetnya menggunakan alat yang dipakai bergantian antar-pasien. Apabila alat-alatnya steril, dikatakannya, penularan tentu tidak akan terjadi.

Ia pun menegaskan, kontak sosial dengan ODHA seperti bersalaman, berpelukan sampai berciuman takkan menularkan virus HIV/AIDS.

Virus ini bisa menular lewat beberapa cara, termasuk transfusi darah atau penggunaan jarum suntik bergantian. Aktivitas lain yang menjadi media penyebaran virus adalah hubungan seks tidak aman (tidak menggunakan kondom) karena penyebaran virus ini melalui darah, cairan sperma maupun vagina, dan ASI.

Harapan hidup ODHA pun dapat ditingkatkan dengan beragam cara, diantaranya mengonsumsi obat antiretrovirals (ARV). Dengan obat ini, ODHA tidak perlu khawatir menularkan virus ke pasangan maupun anak, saat berada di kandungan atau saat menyusui.

Dokter Dharmayanti, menceritakan pengalamannya saat bertemu ODHA yang telah lebih dari 15 tahun mengkonsumsi ARV, yang sampai saat ini tampak seperti orang normal.

“Saya sama sekali tidak menyangka jika perempuan tersebut lebih dari 15 tahun mengkonsumsi obat ARV, kulitnya begitu bersih seperti orang normal. Karena efek samping obat tersebut di awal-awal tahun membikin kulit menghitam. Perempuan itu juga selalu memasang alarm untuk pengingat ketika ia harus meminum obat,” ungkapnya.

Di ujung acara, dr. Dharmayanti menantang seluruh peserta untuk berani memeriksakan kondisinya apakah reaktif atau tidak terhadap HIV/AIDS. Ia pun lantang mengajak, agar menepis stigma negatif terhadap penderita HIV/AIDS. (*)