Cerita Jaini, Terdakwa Kasus Begal yang Diputus Bebas

4417
“Saya dicegat polisi, pakaian preman. Terus saya tanya, ada apa ini? lalu polisinya bilang kalau saya telah mbegal. Saya ngelak, tapi tetap dipaksa, kemudian saya diborgol, dibawa ke Polsek Puspo,” kata Jaini mengungkap proses penangkapannya.

Laporan : Tuji Hartono

SEKILAS tak nampak raut kecewa, tenang, tatkala Jaini (20), warga Dusun Watugentong, Desa Ngantungan, Kecamatan Pasrepan, Kabupaten Pasuruan itu, bercerita tentang kasus hukum yang sempat menjeratnya.

Hanya saja, logat kaku tetap terdengar, sedikit terbata, dengan mengatakan rasa syukur atas putusan bebas pada 11 Desember 2018, setelah didakwa melakukan aksi begal, oleh Pengadilan Negeri (PN) Bangil. Tuntutan Jaksa Penuntut Umum, tak main-main, Jaini diduga membegal dan harus dihukum selama 9 tahun penjara.

Baca Juga :   Hujan Deras, Longsor di Jalan Tosari Menuju Wonokitri

Terdiam sejenak, ia kemudian melanjutkan cerita, disangka telah membegal motor matik Honda Scoopy, milik Maya Afry Nadilla (20), warga Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan, pada 2 Juni 2018 silam.

Saat itu ia tiba-tiba ditangkap polisi, ketika tengah mengendarai motor warna pink di jalanan termasuk Dusun Kebon Tengah, Desa/Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan.

“Saya dicegat polisi, pakaian preman. Terus saya tanya, ada apa ini? lalu polisinya bilang kalau saya telah mbegal. Saya ngelak, tapi tetap dipaksa, kemudian saya diborgol, dibawa ke Polsek Puspo,” kata Jaini mengungkap proses penangkapannya.

Iapun diinterogasi. Jaini ditangkap berdasarkan surat penangkapan nomor perkara SP.Kap/01/VI/2018/Satreskrim.

Statusnya waktu itu juga berubah jadi pesakitan dan harus mendekam di sel tahanan Mapolsek Puspo.

Baca Juga :   Jumlah Dukungan Calon Independen di Pilbup Pasuruan Sebanyak 76.797

Masalah justru bertumpuk. Karena, Jaini mengaku malah mendapat perlakuan buruk dari polisi, dipukuli agar mengakui aksi begal di Puspo.

Kondisi itu, membuat Jaini kian tertekan, lebih-lebih jika mengingat istri tercinta juga tengah hamil muda. Tak banyak hal yang bisa dilakukan, selain pasrah.

“Saya waktu itu, masih 5 bulan menikah dengan Nuriyah,” ungkapnya.

Proses hukum yang melilitnya juga terbilang berat. Orang tuanya yang kebingungan kala itu juga tak bisa segera menemuinya di sel tahanan. Kerabat dan orang tua baru bisa menemui 3 hari setelah penangkapan, tepatnya hari Kamis 7 Juni 2018.

Mendapat perhatian, karuan saja menjadi penghibur tersendiri. Namun, Jaini sudah terlanjur menandatangani berita acara pemeriksaan (BAP) terkait perkara yang dialamatkan kepadanya.

Baca Juga :   Satgas Anti Narkoba Sekolah Dikukuhkan

“Kalau tidak tanda tangan berkas perkaranya, saya dipukuli terus menerus. Jadi karena saya takut dipukuli, saya tanda tangan itu (berkas perkara, red),” akunya.