Kakek Pengayuh Sepeda Ini Tercebur Got saat Lintasi Overpass Tol di Sadengrejo

0
1732
Duladim (60), Warga Desa Pandanrejo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, seperti menahan sakit setelah terjatuh ke dalam got. Ia terjatuh usai berpapasan dengan kendaraan lain, ketika melintasi jalan turunan tajam overpass di Sadengrejo, Rejoso.

Rejoso (wartabromo.com) – Seorang pengendara sepeda ontel tercebur ke got depan sebuah rumah di Desa Sadengrejo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, Kamis (27/12/2018). Ia terjatuh saat melintas di Overpass tol.

Pengendara ontel itu kemudian diketahui bernama Duladim (60), Warga Desa Pandanrejo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan. Kakek ini terlihat hanya duduk, seperti menahan sakit, setelah terjatuh ke dalam got. Sarung dan kaos yang dikenakan pun terlihat kotor terkena lumpur.

Beberapa warga kemudian memberi segelas air mineral, setelah sebelumnya menolongnya keluar dari dalam saluran air penuh lumpur hitam itu.

Salah seorang warga Desa Sadengrejo, Hudan Dardiri mengatakan, petang tadi tampak Duladim mengayuh sepeda ontel, dari arah utara melintasi overpass dengan santai, menuju rumahnya.

Saat berada di tengah overpass, kakek yang kemudian diketahui pulang belanja untuk toko kelontongnya itu, berpapasan dengan kendaraan bermotor. Sepertinya, ia terkejut hingga sedikit kehilangan keseimbangan.

“Ia berusaha menghindar, tapi karena jalan overpass terlalu curam, dia tidak mampu mengendalikan laju sepedanya, kemudian ia jatuh tersungkur ke got yang ada di depan rumah warga di sebelah timur kantor desa Sadengrejo,” jelasnya.

Setelah beberapa waktu, sang kakek mengaku sudah dapat melanjutkan perjalanan, pulang ke rumahnya meski dalam kondisi tubuh penuh lumpur.

Diketahui, warga Sadengrejo pernah berunjuk rasa di kantor DPRD Kabupaten Pasuruan terkait protes pembangunan overpass tol Gempol-pasuruan (Gempas) Seksi 3, di Desa Sadengrejo, Rejoso. Menurut warga, overpass tersebut telah memakan banyak korban, terutama anak-anak dan lansia.

Bahkan sebelum peristiwa Duladim ini, beberapa siswa sekolah sempat terjatuh, hingga menabrak pagar balai desa, yang letaknya berjarak 100-200 meter dari overpass tol.

“Kami menunggu respon, dari semua tuntutan kami dan berharap segera di realisasikan,agar tidak terulang memakan korban,” ungkap Dardiri.

Sementara beberapa waktu lalu, upaya dialog warga Sadengrejo dengan pihak penyelenggara proyek tol pernah dilakukan. Bahkan pertemuan itu juga dihadiri sejumlah anggota dewan. Hasilnya, overpass tetap ada, namun harus dilandaikan. Selain itu, pihak pelaksana tol juga berjanji akan mengerjakan underpass berdimensi lebar 3 meter dan tinggi 2,5 meter, pada minggu ketiga, setelah tol diresmikan.

“Ya, kami mohon jangan menunggu semakin banyak korban berjatuhan,” tutupnya. (ptr/ono)