Ketika Bekas Dealer Motor Disulap jadi Kedai Kopi Kapiten

3033
Tak terlihat mewah, meski juga tak bisa dibilang sederhana, kedai ini diyakini mampu menjadi penopang, wajah beragam jenis kopi, yang diproduksi di Pasuruan.

Laporan Tuji

SECARA gradual, pengembangan kopi di Pasuruan coba terus dilakukan. Selain menjaga pola produksi, membangun kedai kopi juga dinilai penting, sebagai penopang, menunjukkan wajah kopi khas Pasuruan.

Upaya itu salah satunya dilakukan Irsyad Yusuf, yang tanpa disangka-sangka, membuka sebuah kedai di sekitar terminal Pandaan. Secara bisnis, lokasinya cukup strategis karena memang di pinggir jalan raya.

Pria yang saat ini menjabat Bupati Pasuruan untuk kali kedua itu mengaku, sengaja membuka kedai minuman kopi, setelah mendapati tempat kosong, yang sebelumnya dipakai sebuah dealer motor.

Daripada mubadzir (begitu kira-kira pikiran Irsyad), kurang dari sebulan, tempat itupun kemudian disulap menjadi sebuah kedai, tentu saja lengkap dengan roaster (alat pengolah) kopi berikut barista (peracik kopi) handal, yang siap melayani para penikmat kopi.

Sebagai ornamen, sebuah mobil VW combi orange dimodifikasi sedemikian rupa, bersanding dengan sepeda onthel dan vespa butut antik, menjadi pemanis, untuk memanjakan pengunjung, hingga bisa berlama-lama menikmati kopi di kedai.

Tak terlihat mewah, meski juga tak bisa dibilang sederhana, kedainya diyakini dapat menjadi ajang untuk mengenalkan beragam jenis kopi yang diproduksi di Pasuruan. Sejumlah kopi dalam kemasan merek lokal Pasuruan pun terpampang, terpajang di tiap sudut kedai, karena asosiasi pengusaha kopi Pasuruan juga dilibatkan.

“Otlet kopi Kapiten (Kopi asli Kabupaten Pasuruan) dapat dimanfaatkan petani kopi, yang tersebar di beberapa kecamatan untuk mengenalkan produknya,” kata Gus Irsyad, panggilan akrabnya, Senin (31/12/2018).

Diketahui, kawasan Pandaan selama ini sudah menjadi persinggahan pelancong asal Surabaya, Malang maupun daerah lain. Tanpa disadari, pemilihan tempat untuk menikmati kopi khas Pasuruan ini juga sebagai salah satu pemecah kebuntuan persoalan di areal wisata Masjid Cheng Hoo.

Beberapa waktu terakhir, pengunjung wisata religi yang juga berseberangan dengan kedai kopi Kapiten ini overload dan sudah tidak mungkin lagi ada perluasan. “Tak bisa diperluas karena areal lahan terbatas,” terang Gus Irsyad.

Keinginannya, kedai di seputar terminal Pandaan ini menjadi stimulus, agar dalam beberapa waktu ke depan, kedai-kedai lain dapat berdiri dan berkembang memberi layanan kopi, sekaligus menjadi “display” hasil produk olahan Kabupaten Pasuruan.

Irsyad Yusuf saat praktikkan petik kopi merah dalam satu kesempatan. (Foto: dokumen)

Sekedar informasi, luas lahan perkebunan kopi di wilayah Kabupaten Pasuruan berkisar 4.500 hektar, termasuk sekitar 2.000 hektar berada di lahan kawasan Perhutani.

Lahan-lahan tersebut, dimungkinkan ada tambahan 300 hektar, berada di delapan kecamatan wilayah Kabupaten Pasuruan, yakni Prigen, Tosari, Puspo, Tutur, Purwodadi, Purwosari, Lumbang dan Pasrepan.

Sejumlah sumber mengungkapkan, produksi kopi di Pasuruan mencapai hampir 1.300 ton. Produksinya masih lebih banyak pada jenis kopi robusta, meski jenis arabika sudah mulai mengimbanginya.

Gus Irsyad mengungkapkan, kedai kopi yang dibangun ini bagian merangkai ikhtiar pengembangan kopi, setidaknya kebijakan pendampingan dalam bentuk lain kepada petani kopi Pasuruan.

Ia pun berpesan, kualitas kopi tetap menjadi hal yang harus diperhatikan, mulai pemilihan benih, perawatan, panen, penjemuran hingga proses memasak kopi, yang dikatakannya tidak boleh dilakukan sembarangan. Terutama ia tekankan adalah pada panen kopi, yang menurutnya harus pada saat kopi benar-benar matang. Kopi matang ditandai dengan kulit berwarna merah.

“Selain lebih mahal, cita rasanya juga lebih nikmat. Nah, bagaimana kopi sebagai produk berkualitas, menjadi brand daerah, yang bisa terus dipasarkan ke luar daerah,” ungkapnya. (*)