Bawaslu Dapat Perlawanan saat Tertibkan APK di Sumber Banteng

0
598
Suasana sesaat aksi protes, terkait penertiban APK di Kedung Banteng, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan.

Kejayan (wartabromo.com) – Bawaslu Kabupaten Pasuruan kembali lakukan penertiban alat peraga kampanye (APK), langgar ketentuan. Namun, kali ini upaya Bawaslu mendapat perlawanan dari tim sukses Calon Legislatif (Caleg).

Perlawanan ditunjukkan berupa protes ke petugas, di Balai Desa Sumber Banteng, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan, Rabu (9/1/2019) malam.

Seorang dengan mengenakan kopiah putih bersorban, berteriak sambil tangannya menunjuk-nunjuk ke arah sejumlah petugas. Pria diketahui bernama Ali Zainal Abidin itu, marah lantaran salah satu baliho yang terpasang, tiba-tiba dicopot oleh Bawaslu, yang disebutnya tanpa ada pemberitahuan.

Namun, suasana mencekam saat itu berangsur mereda, setelah ajakan musyawarah diterima dan dapat dilangsungkan oleh kedua pihak. “Sebenarnya tidak ada pemberitahuan (penertiban APK) kepada kami, kalau pemasangan dipaku tidak boleh. Kami memasangnya kan pada bambu yang ditempel ke pohon, kami ikat,” ujar Ali.

Sebelumnya, Bawaslu Kabupaten Pasuruan, melalui Panwascam bersama-sama dengan PPK Kejayan, menemukan sejumlah baliho terpasang dengan cara dipaku pada pohon di pinggir jalan Desa Sumber Banteng. Petugas tanpa dikomando langsung mencopotnya, karena dianggap telah salahi ketentuan.

Nah, baliho yang ditertibkan itu kemudian mendapat protes dari Ali Zainal Abidin.

Hanya saja, Ketua Bawaslu Kabupaten Pasuruan, M. Nasrup menegaskan, jika pihaknya telah menjalankan prosedur dan ketentuan di masa kampanye kali ini.

Terkait larangan memasang APK di pohon dengan cara dipaku, dikatakan jika sebelumnya sudah ada pemberitahuan. Khusus pada kasus di Kedung Banteng, surat himbauan untuk dilakukan pencopotan sudah dilayangkan beberapa waktu sebelumnya, ke pengurus partai di tingkat kecamatan, tempat bernaung Caleg, yang memiliki baliho kampanye tersebut.

“Kami sebenarnya telah memberikan himbauan untuk mencopot sendiri, baliho yang dipaku di pohon,” kata Nasrup. (ono/ono)