Jadi Korban Mafia Bola, Persekabpas Tunggu Sikap Tegas PSSI

0
565

Pasuruan (wartabromo.com) – Pengaturan skor mengemuka setelah wasit Nurul Safarid, diduga “berpihak” menangkan Persibara Banjarnegara saat hadapi Persekabpas Pasuruan di leg kedua Liga 3 Zona Jawa, Selasa (16/10/2018) lalu. Langkah tegas PSSI, kemudian dinanti untuk dapat menganulir hasil laga itu.

Sikap wait and see, sepertinya masih ditunjukkan oleh Persekabpas Pasuruan, menyusul ditangkapnya, Nurul Safarid, pengadil lapangan, yang dianggap merugikan itu.

Manager Persekabpas di tahun 2018 lalu, Suryono Pane mengungkapkan praktik mafia sepakbola nasional ini, sepatutnya menjadi perhatian semua pihak. Aksi sigap Satgas Mafia Bola yamg dipimpin Kapolri Jenderal Tito Karnavian, menurutnya sudah tepat, bahkan sempat membuatnya terkejut, karena tiba-tiba wasit Nurul Safarid ditangkap, selaras dengan sikap protes resmi yang diajukan, mengenai proses dan hasil laga melawan Persibara kala itu.

“Ini Satgas sangat cepat. Saya kira (Persekabpas) masih menunggu. Kalau suap kan ada penerima dan pemberi. Terus bagaimana perangkat pertandingan yang lain?” ujar Pane.

Salah satu advokat asal Beji, Kabupaten Pasuruan ini menambahkan, jika memang dimungkinkan, sejumlah bukti berupa rekaman maupun dokumen lain yang dimiliki Persekabpas, bisa diserahkan ke Satgas Mafia Bola. Meskipun sebenarnya bukti-bukti itu sudah dalam bagian lampiran protes yang diajukan sebelumnya.

Itulah kemudian, PSSI sebagai induk sepakbola nasional, saat ini dikatakan Pane, seharusnya melakukan langkah tegas, terutama segera menyusulkan kebijakan menganulir hasil pertandingan Persibara versus Persekabpas pada leg kedua Liga 3 Zona Jawa tersebut.

Sekedar informasi, saat itu Persekabpas kalah telak, 0-3 pada leg kedua Liga 3 Zona Jawa 2018 di Stadion Soemitro Kolopaking, markas Persibara Banjarnegara. Kekalahan ini  membuat Persekabpas terhenti melaju dan tetap berada di liga kasta ketiga di kompetisi sepakbola nasional.

“Jadi kalau jujur, fair, begitu (PSSI harus menganulir hasil). Sementara masih nunggu, jika PSSI tak segera bersikap, kami akan ke FIFA,” tandas Pane.

Upaya ke FIFA, dianggap perlu dipikirkan untuk segera direalisasikan, setidaknya memberi gambaran, betapa buruknya pengelolaan sepakbola sejak ditangani oleh Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi.

Diwartakan, Satgas Mafia Bola, menangkap Nurul di Garut, Senin (7/1/2019). Itu setelah ada bukti Nurul menggelar pertemuan dengan sejumlah pihak sebelum leg kedua Persibara vs Persekabpas. Pihak tersebut adalah mantan Komisi Wasit, Priyanto; anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Johar Lin Eng; anggota Komisi Disiplin PSSI, Dwi Irianto alias Mbah Putih; Anik Yuni Artika Sari; dua asisten wasit; cadangan wasit; serta pengamat pertandingan.

Pertemuan itu membahas agar perangkat pertandingan, memenangkan Persibara. Nurul mendapatkan bagian dari Priyanto dan Dwi Irianto sebesar Rp 45 juta. Diterima bertahap dari Priyanto dan Mbah Putih, secara cash maupun transfer. (ono/ono)