Dosa Media Terhadap Perempuan

560
Para peserta program pelatihan Jurnalisme untuk Keberagaman berfoto bersama Devi Asmarani, Pemimpin Redaksi Magdalene.co. Sabtu, (19/1/2019) malam.

“Dalam judul-judul di media kita suka sekali menggunakan diksi atau pilihan kata cantik atau hal-hal yang berbau seksualitas, padahal tidak ada kaitannya sama sekali dengan isi yang dibahas. Itu hanya bumbu untuk membuat pembaca semakin penasaran,”

Laporan: Ardiana Putri

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya mengadakan program pelatihan untuk para jurnalis di Jawa Timur. Beberapa materi menarik tentang isu keberagaman dipaparkan dalam kegiatan ini, salah satunya tentang Peran Media dan Isu Gender, yang berkaitan dengan perempuan.

Mendatangkan pemantik profesional, Devi Asmarani, yang merupakan Pemimpin Redaksi Magdalene.co, sebuah media nasional yang fokus pada isu-isu perempuan. Para peserta diajak untuk merenungi, bahkan mengkritisi cara media menyajikan sebuah informasi terutama yang bersinggungan dengan perempuan.

Dalam sesi diskusi tersebut, dipaparkan dosa-dosa media massa, memperlakukan perempuan dan beberapa kaum minoritas lainnya seperti transgender, gay serta lesbian.

“Dalam judul-judul di media kita, suka sekali menggunakan diksi atau pilihan kata cantik atau hal-hal yang berbau seksualitas, padahal tidak ada kaitannya sama sekali dengan isi yang dibahas. Itu hanya bumbu untuk membuat pembaca semakin penasaran,” ungkap Devi Asmarani.

Selain itu, pada pemberitaan tentang kasus kekerasan seperti perkosaan, seringkali media massa justru menyudutkan korban yang merupakan seorang perempuan.

Misalnya, berita berjudul Seorang Wanita Cantik Diperkosa dan ditemukan Tanpa Mengenakan Celana Dalam.

Menurut Devi, kata cantik dan celana dalam, hanya akan menambah penderitaan korban. Media massa saat ini cenderung mengobjektivasi seksualitas perempuan, demi meningkatkan kunjungan pembaca.

“Apalagi ada pula beberapa media yang sering menceritakan kronologi secara detail, bagaimana perkosaan itu terjadi, itu tidak perlu,” imbuh perempuan yang sudah puluhan tahun berkecimpung di industri media massa itu.

Sementara itu, Dini Wardani, peserta program pelatihan dari RRI Surabaya mengatakan, dirinya sangat beruntung mengikuti sesi diskusi tersebut. Ia mengaku mendapat wawasan baru yang sangat bermanfaat bagi dirinya, yang merupakan seorang jurnalis.

“Saya harus menerapkannya di media saya, agar konten-konten yang disajikan lebih berkualitas dan tidak bias gender,” ungkapnya.

Program pelatihan jurnalis keberagaman ini, diikuti berbagai media massa, mulai dari media online, cetak hingga televisi. Tak hanya jurnalis dari berbagai wilayah di Jawa Timur, tapi juga dihadiri komunitas Gusdurian.

Acara berlangsung selama 2 hari sejak 19 hingga 20 Januari 2019, membahas tema-tema menarik lainnya. Di antaranya, Jurnalisme keberagaman melawan politisasi SARA di media sosial, Dosa-dosa Media dalam Melaporkan Isu Agama, serta HAM Kebebasan Beragama.(*)