Konservasi – Edukasi Jadi Fokus Komunitas Pecinta Satwa, Jack Jungle

854
Jack Jungle merupakan salah satu komunitas pecinta satwa di Pasuruan. Sekilas kegiatan mereka tak ada yang berbeda dengan komunitas pecinta satwa lainnya. Namun di balik itu, ada visi yang bentuknya tak hanya sekadar menyukai satwa namun mereka berfokus pada kegiatan konservasi sekaligus edukasi satwa.

Laporan: Ardiana Putri

SECARA tak sengaja, Wartabromo bertemu dengan satu komunitas pecinta satwa yang tampak berbeda dengan komunitas lainnya di sebuah acara pameran pecinta satwa. Mereka tampak mencolok dibanding lainnya. Tagline yang menarik, sebuah tulisan Jack Jungle lalu diikuti dengan kata Konservasi dan Edukasi.
Ditengah semakin maraknya kasus perburuan hewan langka, Jack Jungle hadir dengan misi melakukan konservasi dan edukasi terhadap satwa.

“Kurangnya pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap perlindungan satwa menjadi penyebab utama terjadinya kepunahan satwa di Indonesia. Hal tersebut tercermin dengan maraknya perburuan dan perdagangan satwa,” ungkap Rizki Arief Ketua Jack Jungle kepada Wartabromo, Sabtu (2/3/2019).

Komunitas yang beranggotakan 25 orang ini selain merupakan pecinta satwa,  juga melakukan kegiatan pecinta alam. Selayaknya para pecinta alam, merekapun bertekad untuk selalu mencintai dan menjaga keseimbangan alam serta melakukan konservasi terhadap alam. Tak terkecuali pada salah satu makhluk hidup yang tinggal di alam yakni para satwa.

“Apapun,berusaha untuk kita lindungi, baik alam ataupun satwanya,” imbuh pria asli Pasuruan itu.

Selain konservasi, Jack Jungle juga miliki misi yakni untuk mengedukasi masyarakat tentang jenis-jenis hewan yang bisa dipelihara maupun tidak. Termasuk, cara perawatan dan pengembangbiakkannya.

Komunitas Jack Jungle saat ikuti pameran satwa di GOR Untung Suropati, Kota Pasuruan, Sabtu (2/3/2019). Foto : Ardiana Putri

Denny Saputra, pembina Jack Jungle juga mengungkapkan pentingnya edukasi terhadap masyarakat tentang cara pandang memelihara satwa. Ia menekankan jika memelihara satwa sebenarnya tak dilakukan secara serta-merta dan sembarangan.

“Kalau di luar negeri bahkan untuk memelihara beberapa satwa khusus itu harus disertai dengan slip gaji, di Indonesia sebenarnya juga perlu ada regulasi semacam itu,” ungkap pria yang juga merupakan Kasie Pidana Khusus (Pidsus) di Kejari Bangil itu.

Bahkan komunitas yang lahir pada tahun 2009 dan telah berbadan hukum sejak 2017 itu telah menginisiasi Pemkot Pasuruan untuk membangun sebuah mini zoo di Kota Pasuruan. Itu dilakukan agar Kota Pasuruan memiliki destinasi pariwisata yang baru dan sebagai alternatif masyarakat Pasuruan untuk belajar lebih dalam tentang satwa dengan akses yang lebih mudah.

“Sudah kami komunikasikan dengan Pemkot melalui dinas terkait, ya mudah-mudahan saja mini zoo yang nantinya akan dibangun di Taman Sekargadung itu segera terealisasi,” pungkas Rizki. (*)