Perjuangkan PIP, Siswa ini Malah Di-bully

0
481

Purwosari (wartabromo.com) – Bersama orang tua, siswa penerima Program Indonesia Pintar (PIP) di SMK Negeri 1 Purwosari, perjuangkan hak setelah menduga ada pemalsuan tanda tangan. Namun yang diterima bukan penyelesaian, ia justru mendapat perundungan (bullying).

Hal itu diungkap Wulandari, ibunda HD, siswa yang mencoba mendapatkan bantuan pengembangan pendidikan, yang seharusnya menjadi hak-nya.

Sang ibu mengaku saat ini mencoba menenangkan putra tercinta, setelah mengetahui ada perundungan dilakukan oleh kawan dan guru kelas.

“Anaknya sekarang seperti trauma,” ujar Wulandari, Selasa (12/3/2019).

Bentuk perundungan itu disebutnya berupa kata-kata mirip cemoohan di grup WhatsApp. Kalimat yang diterima HD dalam grup lebih mengarah pada menyudutkan kedua orang tuanya.

Wulandari menjelaskan, sikap tak patut oleh guru dan kawan-kawan HD itu terjadi, setelah kasus dugaan pemalsuan penerimaan dana PIP 2018 mengemuka dan terpublikasi.

“Malah kesannya, guru anak saya yang memprovokasi di grup WhatsApp itu,” imbuhnya.

Setelah mendapatkan bullying itu, seorang teman perempuan, admin grup, mengeluarkan HD dari grup WhatsApp alumni siswa Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian (TPHP) 3, SMK Negeri 1 Purwosari tersebut.

Ditegaskan sebelumnya, upaya membuka persoalan pencairan PIP di sekolah kejuruan yang memiliki nama besar di Pasuruan ini, bukan semata menginginkan uang sebesar Rp500 ribu, pagu bantuan yang ditetapkan tiap siswa.

“Ini bukan masalah Rp500 ribu,” tandas Wulandari.

Selain menyangkut hak, ia ingin memahami dan mencoba meluruskan proses administrasi terkait pencairan dana PIP. Karena sepengetahuannya, dana bantuan pengembangan pendidikan ini bisa diperoleh, setelah secara administratif harus menunjukkan beragam lembar pendukung.

Baca juga; Dispendik Jatim Telusuri Pemalsuan Tandatangan Penerima PIP di SMKN 1 Purwosari

Diketahui, seorang siswa SMK Negeri 1 Purwosari kelimpungan, dana Program Indonesia Pintar (PIP) untuk bulan Februari tak didapatnya. Bantuan pendidikan itu, telah diambil seseorang, diduga dilakukan dengan memalsukan tanda tangannya. (ono/ono)