Pejuang Literasi yang Terinspirasi dari Sosok Kartini

629
Catur Hayati, pejuang literasi bersama anak-anak dalam sebuah kegiatan peningkatan minat baca yang juga dihadiri istri Wakil Walikota Pasuruan.
“Kartini dulu dibatasi. Keinginannya menempuh pendidikan tinggi pun tidak terpenuhi. Namun dia tak pantang putus bermimpi. Ia mendirikan sekolah perempuan agar mereka bisa mendapatkan hak yang sama seperti laki-laki. Sejak saat itulah perempuan menikmati emansipasi.”
Laporan: Ardiana Putri
PERJUANGAN seorang anak Bangsawan Jawa yang kita kenal sebagai Kartini dalam menyuarakan hak-hak perempuan kini telah membuahkan hasil. Para perempuan di Indonesia sudah dapat menikmati pendidikan tinggi sama seperti laki-laki. Dapat pula bebas bekerja dan berkarya sesuai dengan apa yang mereka inginkan tanpa harus mendapat kekangan.
Sosok Kartini yang selalu berjuang agar anak-anak perempuan dapat menempuh pendidikan itulah yang menjadi inspirasi Catur Hayati (40). Ia menganggap bahwa banyak perempuan-perempuan sukses di ranah publik adalah berkat perjuangan Kartini.
“Bayangkan jika tidak ada sosok Kartini yang sangat pemberani, berjuang menentang tradisi agar anak-anak perempuan dapat mengejar cita-citanya dalam berpendidikan,” ungkap ibu beranak tiga ini.
Ia mengaku sangat terinspirasi oleh sosok Kartini. Oleh karena itu, sejak beberapa tahun yang lalu ia bertekad untuk berjuang di ranah literasi dengan membuka sebuah rumah baca di rumah pribadinya.
Menurutnya, Kartini adalah sosok idola bagi semua perempuan. Selain cerdas, dia juga tak henti-hentinya berjuang mendirikan sebuah sekolah agar anak-anak perempuan di desanya dapat mencicipi pendidikan.
Berbeda dengan Kartini yang kesulitan mengakses pendidikan lantaran terhalang oleh tradisi bahwa perempuan pada saat itu cukup beraktivitas di dapur, sumur dan kasur saja. Hayati juga pernah merasakan sulit memperoleh pendidikan.
“Saya juga sebenarnya dulu putus sekolah karena terkendala biaya, sejak saat itu saya merasa bahwa pendidikan itu sangat penting sekali walaupun kita seorang perempuan,” papar perempuan yang saat ini menjadi relawan Perpustakaan Kota Pasuruan itu.
Hayati sadar, anak-anak sekarang mungkin sudah mudah dalam memperoleh akses pendidikan formal. Pemerintah juga telah mempermudah memberikan hak pendidikan agar setiap warga negaranya untuk bersekolah. Namun ia terkadang masih melihat anak-anak kurang menghargai hal itu.
“Sekarang coba lihat, semakin modern anak-anak lebih minat untuk bermain gadget daripada banyak membaca,” imbuhnya.
Oleh Sebab itu, Hayati merasa harus ikut berjuang agar anak-anak jaman sekarang memiliki minat membaca yang tinggi. Agar cita-cita dan perjuangan Kartini dalam mencerdaskan bangsa ini tak sia-sia.
Saat ini, rumah baca yang ia kelola pribadi itu mulai diminati anak-anak di sekitar rumahnya. Ia mulai bisa menyunggingkan senyuman lantaran anak-anak mulai rajin datang ke rumah baca yang ia sebut Rumah Baca Fanelia itu untuk belajar sekaligus bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya.(*)