Genjot Sektor Wisata, Kota Probolinggo Belajar ke Banyuwangi

869

Banyuwangi (wartabromo.com) – Kota Probolinggo sebagai kota transit di Jawa Timur, pariwisatanya masih belum maksimal. Kota mangga ini pun berkiblat pada Kabupaten Banyuwangi yang sukses menggarap ekowisata (ecotourisme) di Indonesia.

Perkembangan wisata di tanah Osing -julukan Banyuwangi- ini berkembang pesat sejak beberapa tahun terakhir. Angka kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara pun terus meningkat setiap tahunnya. Wisatawan lokal dari 5 ribu meningkat ke 101 ribu per tahun. Sedangkan mancanegara sebelumnya 600 ribu per tahun sekarang menjadi 5,3 juta.

Selain menjadi penyangga wisata Bali, Kabupaten Banyuwangi juga mampu mengoptimalkan potensi budaya asli sebagai suguhan wisata. Budaya asli Suku Osing, Suku Jawa dan Suku Madura, menjadi senjata untuk menarik wisatawan. Tentunya juga keindahan alam Bumi Blambangan.

Wali Kota Probolinggo, Habib Hadi Zainal Abidin, mengungkapkan, cara mengangkat pariwisata di Banyuwangi, itu perlu dipelajari. Semua kesenian dan budaya di Banyuwangi dikatakan cukup hidup. Nah, Kota Probolinggo pun memiliki tarian, seni, dan budaya. Iapun berkeyakinan Kota Probolinggo juga memiliki kemampuan untuk mengangkat potensi wisata yang dimiliki.

“Sebagai daerah transit, antara Surabaya dan Banyuwangi, Kota Probolinggo bisa mengikuti jejak Banyuwangi. Karena itu, kami mengajak para jurnalis ke sini. Karena pencitraan lewat media massa mampu menjadikan Banyuwangi berkembang pesat. Menimba ilmu bagaimana kerjasamanya dengan pemberitaan, agar kami dan para jurnalis bisa bekerja sama lebih baik lagi,” kata Habib Hadi Zainal Abidin, Selasa (30/4/2019).

Bupati Banyuwangi, Azwar Anas mengakui peran jurnalis dalam mempromosikan wisata dan budaya di daerahnya sangat besar. Namun, promosi ini mempunyai risiko tinggi (high risk), jika tak sesuai dengan fakta di lapangan.

“Iklan atau promosi tentang pariwisata berisiko tinggi jika apa yang diiklankan tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Sebab, pengunjung bisa melakukan penilaian dan di-share ke media sosial dan itu membahayakan. Namun kami berani mengambil itu,” tuturnya.

Keyakinan itu dikuatkan Anas, lantaran Banyuwangi mempunyai modal budaya yang kuat. Sehingga dengan sentuhan sedikit dan melibatkan masyarakat, maka wisata itu dapat dijual. Tanpa membebani APBD, puluhan festival mampu digelar dan menarik turis. Semisal festival seribu gandrung. Atau juga branding Kopi Osing, kopi dari pegunungan Ijen di Sanggar Genjah Arum, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah.

“Komitmen ini butuh kesungguhan. Kalau tidak, di tengah perjalanan kita akan melanggar apa yang sudah kita buat.

Secara spesifik, Anas memberikan gambaran, pada setiap hotel diwajibkan menampilkan desain arsitektur yang menunjukkan identitas Banyuwangi. Selain itu, pihaknya juga mengembangkan homestay agar masyarakat mendapatkan ruang.

“Menuju ke situ (komitmen) yang penting adalah SDM. Dan, uang bukan segalanya. Saya yakin Kota Probolinggo bisa, dengan menjadi penyangga wisata Gunung Bromo,” tandas Bupati Banyuwangi 2 periode ini. (saw/saw)