Bijak Bermedsos, Tangkal Radikalisme

468

Pasuruan (wartabromo.com) – Media sosial (medsos) menjadi salah satu sarana komunikasi berbasis online yang pertumbuhannya cukup pesat. Hanya saja, medsos juga dimanfaatkan untuk penanaman konsep kekerasan mengatasnamakan agama hingga hoaks.

Rulli Nasrullah, pengamat media sosial, menjelaskan, sudah banyak bukti yang menyatakan bahwa tingkat pendidikan tidak terlalu banyak mempengaruhi literasi digital.

“Ternyata biarpun sudah menempuh pendidikan tinggi, bahkan pejabat dan berbagai lapisan juga menyebarkan hoaks (berita bohong) juga,” ujar Rulli dinukil dari portal berita Viva.

Menurut Rulli, sikap netizen harusnya lebih kritis. Hal ini dilakukan agar terhindar dari provokasi yang menimbulkan perpecahan akibat keributan informasi yang tidak jelas kebenarannya.

Suatu berita bohong yang sering diributkan, akan semakin mudah menyebar. Sebaliknya, jika tak ada yang meramaikan, atau bahkan mengabaikannya, hoaks akan hilang dengan sendirinya.

Ada 3 hal penting yang harus dilakukan netizen, agar tak terpengaruh provokasi:

Pertama, fungsi dan peran dari lingkungan terdekat harus ada.

Kedua, literasi digital harus lebih digalakkan. Hal ini bisa dilakukan pemerintah, keluarga, sekolah, ataupun pihak lainnya.

Ketiga, lebih banyak memproduksi konten positif agar bisa mengcounter konten negatif di berbagai platform medsos.

Selain ketiga hal yang harus dilakukan netizen, Rulli juga menambahkan, perusahaan medsos dan pemerintah harus memiliki regulasi khusus. Bahkan, jika dibutuhkan, juga diperlukan tindakan tegas.

Seperti kata pepatah, mencegah lebih baik daripada mengobati. Artinya, jika kebohongan, atau konten negatif bahkan paham-paham yang menyimpang sudah menyebar hingga masuk ke dalam jiwa seseorang, maka untuk memperbaikinya cukup sulit.

“Karena ini teknologi, saya pikir dari pihak medsos sebenarnya sangat mudah, tinggal memasukkan kata kunci, maka konten-konten seperti pornografi, radikalisme, kekerasan tidak akan muncul,” pungkasnya. (bel/may)