Buta Huruf di Pasuruan Didominasi Kaum Perempuan

542
Ilustrasi dunia pendidikan. (Gambar: google)
“Ironis, di era modern dan telah banyak orang-orang pintar seperti saat ini, ternyata di Pasuruan masih terdapat penduduk yang belum melek huruf. Didominasi oleh kaum perempuan,”

Laporan: Ardiana Putri

DI SAAT momentum masyarakat berlomba-lomba masuk sekolah unggulan hingga memperdebatkan sistem zonasi pendidikan, tampaknya kita lupa bahwa masih banyak masyarakat di sekitar kita yang masih terbata-bata dalam membaca, bahkan mungkin sama sekali tak bisa.

Seperti yang dilaporkan BPS dalam Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Pasuruan 2018, masih ada penduduk berusia 15 tahun ke atas yang mengalami buta huruf (belum melek huruf). Dari sejumlah 1.605.307 jiwa penduduk Kabupaten Pasuruan, sebanyak 4,60 persen laki-laki mengalami buta huruf. Sementara untuk perempuan jumlahnya lebih tinggi lagi bahkan mencapai lebih dari dua kali lipatnya, yakni 10,64 persen.

“Terkait kemampuan baca tulis penduduk, di Kabupaten Pasuruan pada usia 15 tahun ke atas yang mengalami buta aksara didominasi oleh penduduk perempuan,” tulis laporan publikasi BPS.

Artinya, terdapat 95,40 persen penduduk laki-laki yang memiliki kemampuan membaca dan menulis di tahun 2018. Sedangkan untuk penduduk perempuan hanya 89,36 persen saja.

Mirisnya lagi, apabila dibandingkan dengan tahun 2017, kemampuan membaca dan menulis penduduk Kabupaten Pasuruan tampaknya menurun. Artinya, angka buta huruf menjadi naik di tahun 2018.

BPS menunjukkan, pada tahun 2017, penduduk laki-laki yang memiliki kemampuan baca tulis mencapai 95,55 persen. Sementara kaum hawa mencapai 90,40 persen. Coba bandingkan dengan kemampuan baca tulis penduduk Kabupaten Pasuruan tahun 2018 yang telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya.

Survey BPS menyebutkan, masih adanya penduduk buta huruf ini diantaranya disebabkan oleh penduduk yang sudah lulus dan mendapatkan Surat Keterangan Melek Aksara (SUKMA) dari kegiatan pemberantasan buta huruf tetapi selanjutnya kemampuan tersebut jarang dipakai sehingga banyak yang lupa dan tidak bisa baca tulis lagi.

Sayangnya, tidak ada survey lanjutan yang dapat disampaikan mengenai penyebab lebih tingginya perempuan yang mengalami buta huruf daripada laki-laki.

Sepertinya anggapan bahwa perempuan tak perlu mengenyam pendidikan masih menjangkiti masyarakat, ya Bolo… (*)