Salah Kalkulasi Pasar, Pedagang dan Peternak Ayam Jeblok

1354
Peternak bagikan ayam ke warga di Jogjakarta. (Sumber foto: viva.co.id)

Jakarta (wartabromo.com) – Aksi bagi-bagi ribuan ayam boiler akibat harganya anjlok di beberapa daerah ramai diperbincangkan. Kesalahan prediksi para peternak ayam dinilai Kementerian Pertanian (Kementan) menjadi penyebabnya.

Dilansir dari viva, Fini Murfiani, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Kementan mengungkapkan, jika kalkulasi pasar oleh peternak ayam meleset dari prediksi.

“Banyak yang mengira terjadinya lonjakan permintaan setelah Idul Fitri, tapi nyatanya kondisi itu tidak terjadi,” tutur Fini, Kamis (27/6/2019).

Fini melanjutkan, melesetnya prediksi para peternak menyebabkan persediaan ayam melimpah. Sementara, penjualan daging ayam, masih bermuara di pasar tradisional dalam bentuk ayam utuh dan live bird (LB). Kelebihan pasokanpun dipastikan terjadi.

Sekadar diketahui, harga rata-rata nasional LB perkilogram di tingkat produsen Rp20.216. Sedangkan di Pulau Jawa, harganya Rp11. 327. Jawa Tengah dan Jawa Timur khususnya, harganya lebih rendah lagi, harganya masing-masing Rp8.845 dan Rp10.736.

Berbanding terbalik, di tingkat konsumen, harganya mencapai Rp30.808 di Pulau Jawa. Jawa Timur, daging ayam dipatok Rp25.200 perkilogram. Sedangkan Jawa Tengah, Rp29.600.

Harga yang dinilai sangat rendah, membuat para peternak kelimpungan. Itulah kemudian, mereka ramai-ramai membagikan ribuan ayam sebagai bentuk protes. Seperti di Solo, peternak memberikan 8.000 ayam secara cuma-cuma kepada warga. (bel/ono)