Rokok atau Vape, Mana Lebih Baik?

2684
Foto : Hipwee

Pasuruan (wartabromo.com) – Kota Pasuruan dan beberapa daerah lain di Indonesia, baru saja menerima penghargaan dalam bidang pengendalian tembakau dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Penghargaan ini ditujukan pada seluruh kepala daerah yang berhasil menetapkan Perda/kebijakan tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

Adanya KTR ini salah satu tujuannya adalah melindungi masyarakat dari asap rokok.

Alih-alih melindungi, bagaimana dengan keberadaan rokok elektrik yang tren dengan nama vapour, yang kini sudah merajalela. Vapour memiliki fungsi hampir sama dengan rokok, yang juga menghasilkan asap. Mengingat, vapour dipandang lebih aman daripada rokok.

Sebenarnya, mana yang lebih berbahaya? Rokok atau malah Vapour?

– Rokok

Dikutip dari www.thelarkinbrigade.com, sebanyak 20% kematian akibat penyakit jantung, berkaitan langsung dengan kebiasaan merokok. Seperti diketahui, rokok mengandung ribuan bahan kimia berbahaya, 70% diantaranya terbukti menjadi penyebab kanker.

Menurut Cancer.org, merokok membunuh sekitar 6 juta orang di seluruh dunia setiap tahun. Setidaknya, 30% kematian disebabkan oleh kanker dan penyakit mematikan lain akibat rokok.

Ya, sudah bukan rahasia lagi, merokok menimbulkan berbagai penyakit. Di antaranya batuk ringan, kanker paru-paru, hingga serangan jantung. Itu semua ditulis sendiri bahkan oleh perusahaan rokok, di bungkusnya.

– Vapour

Rokok elektrik berbagai aroma ini, dinilai aman dibandingkan rokok. Bahkan, beberapa orang mengklaim, bahaya terbesar vapour hanya kecanduan. Ini lantaran, cairan vapour mengandung nikotin, sama dengan rokok.

Pada tahun 2016, British Heart Foundation di Enviromental Science & Technology melakukan studi yang menyatakan, vapour tidaklah benar-benar aman. Vapour juga mengandung zat penyebab kanker, meski dalam jumlah lebih sedikit dibanding rokok.

Namun, dalam penelitian lain yang dilakukan University College London’s Health Behavior Research Center di Inggris, menyebutkan, vapour dapat membantu perokok untuk berhenti merokok.

Meski begitu, World Health Organization (WHO) menganjurkan kepada produsen rokok elektrik agar tak mengklaim produknya sebagai alat bantu berhenti merokok. Ini dilakukan sampai ada bukti ilmiah kuat yang mendukung pernyataan itu.

Bahkan disebutkan, uap vapour juga dapat merusak paru-paru di fase awal. Utamanya, yang memiliki riwayat alergi. Juga bisa menyebabkan asma.

Dijelaskan, paru-paru perokok sebagian besar memiliki noda atau bercak hitam akibat racun yang menempel di paru-paru. Lain halnya dengan vapour yang berbasis baterai untuk memberikan nikotin dalan bentuk uap, atau disebut Electronic Nicotine Delivery System (ENDS). Dalam jangka panjang, penggunaan vapour dapat menyebabkan bahaya bagi kesehatan, di antaranya terjadinya adiksi.

Sekadar informasi, adiksi merupakan suatu kondisi ketergantungan fisik dan mental terhadap hal-hal tertentu yang menimbulkan perubahan perilaku bagi orang yang mengalaminya. Orang dengan adiksi, mengalami gangguan pada otaknya sehingga “timbul keinginan untuk menggunakan zat dan mendapat kenikmatan”.

Sederhananya, jika ada seorang yang sama sekali bukan pemakai dan bukan adiksi, meskipun disodorkan satu kilo putaw secara cuma-cuma, tidak akan tergiur. Lain halnya dengan orang adiksi. jangankan disodori, hanya dengan membayangkan atau mengingat hal yang berhubungan dengan zat berbahaya narkotika, sudah bisa menimbulkan keinginan yang tak terbendung untuk mendapatkan dan menikmati zat itu. Bahkan, apapun dilakukan untuk memenuhi keinginannya.

Mungkin penjelasan di atas sudah menggambarkan bagaimana bahaya masing-masing alat hisap ini. Vapour bisa menjadi pilihan bagi para perokok aktif yang sudah kecanduan akut, karena diklaim lebih aman. Tapi ingat, saat nge-vape, pastikan tidak mengganggu orang lain karena asapnya jauh lebih tebal ketimbang rokok. Pun juga jangan gunakan terlalu berlebihan. (bel/may)