Probolinggo Gagal Berprestasi di Porprov, KONI Evaluasi Sistem Pembinaan

370

Probolinggo (wartabromo.com) – Kontingen Kabupaten Probolinggo gagal tingkatkan prestasi dalam gelaran Porprov VI Jawa Timur. KONI Probolinggo selaku induk olahraga berencana melakukan evaluasi total.

Dalam klasemen akhir Porprov 2019, kontingen Kabupaten Probolinggo, nangkring di posisi 29 dengan meraih 3 emas, 6 perak, dan 9 perunggu. Tiga medali emas itu didapat dari 2 cabang olahraga, yakni anggar (1 emas) dan Muaythai (2 emas). Posisi ini jelas bertolak belakang dengan target 15 besar yang dicanangkan KONI.

Tak hanya gagal memenuhi ekspektasi, peringkat dan perolehan medali kali ini, juga di bawah hasil pada Porprov 2015, yang digelar di Banyuwangi. Kala itu, Kabupaten Probolinggo nangkring di peringkat 25, dengan raihan 9 emas, 3 perak, dan 7 perunggu. “Meskipun hasil jauh dari target, tetapi ini adalah buah kerja keras dari para atlet yang telah susah payah untuk mencapainya,” kata Ketua KONI Kabupaten Probolinggo, Sugeng Nufindarko, Senin (15/7/2019).

Penurunan performa ini, membuat KONI berencana akan melakukan evaluasi total. Sebab, KONI awalnya menargetkan ada 10 cabor yang meraih emas. Yakni dari Anggar, atletik, balap sepeda, bulu tangkis, muaythai, paralayang, taekwondo, tarung derajat, tinju, dan wushu. Menurutnya ada dua hal yang menjadi evaluasinya. Salah satunya yaitu dari sisi internal. Ia menilai target yang diusung tidak terpenuhi, juga lebih karena kaderisasi atlet terputus.

“Kita lakukan evaluasi total, apa problem yang ada. Untuk ke depan akan kami benahi lagi. Sehingga pengkaderan untuk mencetak atlet yang berbakat bisa kami lakukan. Itu, juga untuk persiapan Porprov selanjutnya pada 2021 mendatang,” ungkap petani bawang merah ini.

Sementara itu, Humas KONI Probolinggo, Ricard De Nre mengungkapkan bahwa selain faktor internal, ada faktor eksternal yang mempengaruhi seretnya perolehan medali. Pertama, karena ada atlet Puslatda yang diikutkan oleh daerah lain. Seperti pada cabang olahraga Muaythai. “Seharusnya kami dapat tiga emas, tetapi karena ada atlet puslatda yang dihadapi, jadi hanya dapat dua (medali emas). Kami sendiri tak menurunkan atlet puslatda. Sebab, kami menaati aturan,” terangnya.

Ada juga pemain bon-bonan yang dipakai daerah lain. Atlet ini berasal dari provinsi lain, seperti dari Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sebab, aturan yang dipakai dalam Porprov cukup longgar. “Minimal ber-KTP pada Februari lalu, sudah bisa ikut. Nah, ini tidak bagus bagi daerah yang konsisten melakukan pembinaan. Daerah tinggal bon pemain dari luar untuk menaikkan prestasi,” tandas pria yang juga wartawan ini. (saw/saw)