Pelaku Wisata Tolak Kereta Gantung Bromo

5614

Probolinggo (wartabromo.com) – Pelaku wisata di kawasan Bromo menolak rencana pembangunan kereta gantung oleh pemerintah. Kereta gantung dinilai akan mematikan jasa wisata yang sudah ada.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Probolinggo, Jamaluddin Digdoyo meminta Pemerintah Pusat dan Pemprov Jawa Timur untuk mengkaji ulang rencana tersebut. “Wacana kereta gantung itu ditinjau dari segala aspek, harus betul-betuk dipikirkan. Maslahat dan mudharatnya harus dipikirkan betul-betul,” katanya, Selasa (16/7/2019).

Pria yang akrab dipanggil Yoyok itu, mengungkapkan bahwa keberadaan kereta gantung lebih banyak minusnya bagi pelaku jasa usaha. Semisal bagi pengusaha hotel dan restoran, jasa kuda, jip, juga ojek, serta warung. Sebab, wisatawan enggan berlama-lama di Bromo. Pasca menikmati sunrise, Lautan Pasir dan Savana dari ketinggian, wisatawan kembali.

“Kemungkinan pelaku wisata yang mendulang rezeki di Bromo seperti jip, ojek, ojek kuda, hotel dan semuanya akan tengkurep atau gulung tikar. Karena itu, harus dikaji ulang. Karena bukan kereta gantung yang menjadi solusi untuk meningkatkan kunjungan wisata, tapi perbaikan fasilitas dan infrastruktur,” ungkap Yoyok.

Yoyok menyebut salah satu fasilitas yang sangat minim di Bromo adalah toilet serta ketersediaan air bersih. Dua hal ini sangat sulit didapat wisatawan saat berkunjung ke Bromo. Ia juga meminta pembenahan infrastruktur jalan menuju kawasan Bromo segera diperbaiki. Sebab, di beberapa ruas, masih terdapat jalan berlubang dan aspal mengelupas.

Jika pembenahan fasilitas dan infrastruktur dilakukan dengan baik oleh pemerintah, maka kereta gantung tidak diperlukan. “Solusinya sebenarnya bukan kereta gantung, tapi membenahi memperbaiki fasilitas prasarana sarana yang ada di Bromo yang akan disuguhkan ke tamu betul-betul layanan ditingkatkan,” ujarnya.

Baca: Pemprov Jatim Wacanakan Kereta Gantung di Bromo

Selain itu, kereta gantung menurut Yoyok akan membuat masalah baru. “Akan menimbulkan dilema baru, sekarang saja dengan adanya jalan tol, hotel, dan restoran tengkurep. Karena dengan perjalanan dari Surabaya yang tidak sampai 2 jam, mereka akan midnight tour atau tidak akan menginap di Bromo,” tandas pemilik hotel Yoschi ini. (saw/saw)