Ini Mitos dan Fakta Gerhana Bulan

1680
Gerhana Bulan. Foto : Indopos.

Pasuruan (wartabromo.com) – Wilayah Indonesia bisa mengamati secara langsung peristiwa gerhana bulan sebagian dini hari tadi, Rabu (17/7/2019). Nah, seiring dengan itu, banyak mitos terkait gerhana bulan yang berkembang di masyarakat. Apa saja?

Dihimpun dari beberapa sumber, berikut mitos mengenai gerhana bulan yang dipercaya sejak dahulu:

1. Berbahaya bagi Ibu hamil

Ya, ada beberapa mitos tentang bahaya gerhana bulan pada ibu hamil. Seorang Ibu hamil ketika berada di luar rumah dan menyaksikan gerhana bulan, bayinya akan terlahir sumbing.

Ada juga mitos yang mengatakan dilarang mengelus perut selama gerhana. Jika dilakukan, bayi akan lahir dengan tanda lahir yang besarnya dipengaruhi oleh kuatnya sentuhan. Semakin kuat sentuhan, tanda lahir yang muncul, akan semakin besar

Bukan hanya itu, selama berlangsungnya gerhana, ibu hamil biasanya juga menghindari penggunaan benda tajam, tidak makan apapun, menutup jendela dengan koran dan kain tebal, istirahat total, membuang semua makanan yang dimasak sebelum gerhana, dan mandi ketika gerhana berakhir.

Tapi tenang, itu semua merupakan pernyataan tak berdasar. Jadi, para ibu hamil, jangan khawatir berlebihan. Sebab, hal itu bisa menaikkan tekanan darah dan berbahaya bagi jabang bayi.

2. Tidur tak nyenyak

Orang yang tidur saat Gerhana, maka tidurnya tidak nyenyak. Pernyataan itu ternyata bukan hanya mitos lho, tapi fakta. Menurut penelitian National Center for Biotechnology Information tahun 2013, gerhana bulan memang dapat mempengaruhi kualitas tidur. Ini juga berdampak pada orang yang tak melihat peristiwa gerhana bulan.

Mengapa demikian?

Saat bulan purnama, hormon melatonin mengalami penurunan drastis. Inilah yang membuat turunnya kualitas tidur.

Sekedar informasi, melatonin merupakan hormon yang diproduksi oleh kelenjar pineal di otak terutama pada malam hari. Hormon ini biasanya diproduksi sebelum tubuh mempersiapkan dirinya untuk tidur.

Itulah, mengapa ketika melatonin mengalami penurunan, kualitas tidurpun juga akan menurun.

3. Bikin moody

Satu lagi pernyataan yang menyebutkan, gerhana bulan sebagian berpengaruh pada mood dan kondisi psikologis perempuan. Pernyataan itu ternyata beralasan.

Dilansir dari suara.com, kepercayaan tersebut didasarkan pada siklus hormonal perempuan. Dimana siklus itu dipengaruhi oleh pergerakan bulan. Inilah yang membuat perempuan lebih moody dan sensitif.

Apakah kalian mengalaminya?

4. Merusak retina

Gerhana bulan, berbeda dengan gerhana matahari. Jika ingin melihat gerhana matahari, diperlukan kacamata khusus agar retina mata tidak rusak akibat pantulan sinar matahari.

Sedangkan pada saat gerhana bulan, kita bisa melihatnya dengan mata telanjang. Karena, pantulan sinar matahari tidak terlalu kuat ketika gerhana bulan. Jadi, tidak berbahaya bagi retina.

Selain mitos, ada juga fakta menarik gerhana bulan sebagian yang terjadi hari ini, antara lain:

  • Melintasi 5 Benua

Ya, hampir seluruh belahan dunia dapat menyaksikan fenomena gerhana bulan sebagian. Melintasi 5 benua, yakni Australia, Afrika, Eropa, Amerika dan Asia. Beruntungnya, fenomena kali ini juga bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat di Indonesia dimanapun.

  • Terulang 18 Tahun Lagi

Dikutip dari laman resmi BMKG, gerhana bulan sebagian yang terjadi hari ini 17 Juli 2019, merupakan anggota ke 21 dari 75 anggota pada seri Saros 139. Sebelumnya, gerhana bulan sebagian serupa terjadi pada 5 Juli 2001. Artinya, gerhana bulan sebagian selanjutnya akan terjadi 18 tahun kedepan, pada 27 Juli 2037. (bel/may)