Relawan TIK Pasuruan Ajak Siswa Kampanye Anti Hoaks

289

Gempol (wartabromo.com) – Berita bohong atau hoaks dan ujaran kebencian masih bertebaran di tengah masyarakat. Untuk memeranginya, Relawan TIK Pasuruan ajak siswa untuk sama-sama memberantas hoaks dan ujaran kebencian.

Bahruddin, Ketua Relawan TIK Pasuruan menyampaikan, masyarakat harus pro aktif memberantas hoaks maupun ujaran kebencian, utamanya generasi muda. Hoaks dan ujaran kebencian bisa menjadi pemicu retaknya perdamaian anak bangsa. Oleh sebab itulah harus diberantas.

“Generasi muda harus pro aktif memerangi hoaks dan ujaran kebencian,” ungkap pria yang akrab disapa Mas Bro ini saat menyampaikan kampanye anti hoaks dan Ujaran Kebencian kepada para siswa MTs dan MA Darut Taqwa I Watukosek, Gempol, Jumat (19/7/2019).

Di hadapan 113 siswa, saat berlangsungnya acara bertajuk Kampanye Anti Hoax dan Ujaran Kebencian itu, Mas Bro mengatakan, hoaks dan ujaran kebencian memiliki dampak destruktif yang tidak bisa disepelekan.

“Kalian juga harus menjadi agen pemberantas hoaks dan ujaran kebencian karena bisa merusak persatuan bangsa,” imbuh Mas Bro.

Senada dengan hal tersebut, Masruri, Kepala MTs Darut Taqwa I Watukosek menyampaikan, para siswa harus mengetahui ciri-ciri berita hoaks dan ujaran kebencian agar mereka tidak terjebak ikut menyebarkannya.

Masruri menguraikan ciri berita yang mengandung kebohongan atau hoaks. Misalnya, sumber berita kurang bisa dipercaya atau media diketahui bukanlah media resmi. Selain itu, kata-kata yang provokatif dan berbau SARA.

“Kalian harus mengetahui ciri-ciri berita hoax dan ujaran kebencian. Jangan sampai kalian justru ikut menyebarkan berita hoax dan masuk dalam ranah ujaran kebencian yang nantinya akan terjerat UU ITE,” sambutnya.

Acara yang disupport media online wartabromo.com tersebut sukses menyedot antusiasme para siswa. Meraka penasaran hingga memancing rasa ingin tahu tentang etika bermedia sosial dan mencerna berita dengan baik.

Salah satu siswa, Sukma Aulia Wulandari tampak antusias mengikuti kampanye anti hoaks yang diselenggarakan Relawan TIK Pasuruan ini. Ia menanyakan bagaimana seharusnya masyarakat khususnya para generasi muda bermedia sosial dan apa ciri berita benar dan tidak masuk dalam ranah ujaran kebencian.

“Saya sangat senang dengan adanya acaranya ini. Saya antusias untuk mengetahui bagaimana caranya beretika di media sosial agar tidak mudah terpancing untuk menyebarkan berita hoaks dan ujaran kebencian,” katanya. (ptr/**)