Dengan Anggrek, Sadengrejo “Pelanggan Banjir” Berkembang Songsong jadi Desa Wisata

1071
Kelompok petani muda Sadengrejo, Kecamatan Rejoso memindahkan (aklamatisasi) seeding dari botol-botol ke cup tanam.

Rejoso (wartabromo.com) – Dikenal desa rawan banjir, Desa Sadengrejo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan berinovasi. Bermimpi menjadi desa wisata, kelompok petani muda Sadengrejo mencoba percantik desanya dengan budidaya anggrek.

Letak geografis Desa Sadengrejo tidak berada di dataran tinggi. Tapi, sepertinya itu bukan jadi masalah bagi para muda untuk kembangkan desanya.

“Kami melihat potensi budidaya anggrek sangat besar, para petani muda di sini bercita-cita untuk menjadikan Sadengrejo sebagai desa wisata anggrek,” ungkap Hudan Dardiri, Ketua Petani Muda Sadengrejo.

Bersama pemuda desa lainnya, ia mencoba beranikan diri memaksimalkan potensi sumber daya manusia sekaligus lahan yang ada, agar lebih produktif. Menurutnya, bertani juga bisa menjadi pilihan, menunjukkan diri dan desa dengan lainnya.

“Mencoba untuk mengubah mindset pemuda, bahwa bertani lebih menguntungkan daripada bekerja ke pabrik. Karena kami melihat kebutuhan pasar anggrek di tingkat nasional sangat potensial,” imbuhnya.

Anggrek yang dipilih tentunya jenis anggrek yang cocok untuk ditanam di dataran rendah. Mereka lebih memilih jenis dendrobium dan turunannya. Kebetulan, anggrek jenis ini merupakan salah satu jenis anggrek yang diminati kolektor.

Ribuan bibit anggrek terhampar di green house yang diletakkan di kawasan persawahan Sadengrejo.

Dari hasil budidaya anggrek tersebut, petani muda Sadengrejo berharap bisa mendongkrak pendapatan desa. Tentu hal lainnya sekaligus juga bakal menjadikan Sadengrejo sebagai sentra anggrek dataran rendah. Ke depan, pemuda desa berharap tanah kelahirannya ini menjadi salah satu desa jujugan wisata di Kabupaten Pasuruan.

Namun, satu hal yang tetap menjadi kecamuk adalah, Desa Sadengrejo kerap dilanda banjir, bila musim sudah memasuki penghujan. Meski diyakini tak mengganggu anggrek yang dibudidayakan, banjir dikatakan tetap saja resahkan warga.

Abdul Kodar, Kepala Desa Sadengrejo mengatakan, geliat anggrek di Kabupaten Pasuruan seakan mati suri. Dengan berdirinya Omah Anggrek yang diinisiasi para petani muda itu, Kodar ingin menjadikan Sadengrejo sebagai ikon anggrek di Kabupaten Pasuruan tanpa mengesampingkan potensi pertanian lainnya, seperti padi yang ada di desanya.

“Semoga dengan adanya budidaya anggrek ini bisa meningkatkan kesejahteraan petani di desa kami,” papar Kodar. (ptr/ono)