Fakta Kemerdekaan : Soekarno-Hatta Sempat Menolak Segera Proklamasi

640
Soekarno-Hatta. Foto : infoana.com

Pasuruan (wartabromo.com) – Sebelum akhirnya merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta sempat menolak untuk membacakan teks proklamasi. Pasalnya, bagi kedua tokoh pemimpin itu, Indonesia harus merdeka dengan bantuan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Hal itu berbanding terbalik dengan kemauan golongan muda yang menganggap Indonesia harus segera merdeka tanpa embel-embel PPKI. Nah, penolakan itupun membuat golongan muda sedikit geram, dan mendesak agar Soekarno-Hatta segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia paling lambat 16 Agustus. Tepatnya 74 tahun yang lalu.

Tak kunjung mendapat kepastian dari kedua tokoh itu, akhirnya golongan muda bersama Shodanco Singgih (salah satu anggota PETA) terpaksa membawa Soekarno-Hatta bersama Fatmawati dan Guntur kecil ke Rengasdengklok. Hal ini dilakukan agar mereka tak terpengaruh oleh Jepang. Peristiwa inipun dikenal dengan Peristiwa Rengasdengklok.

Ketika mereka diasingkan, golongan muda dan golongan tua yang diwakili Ahmad Soebardjo berunding di Jakarta. Mereka setuju memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Ahmad Soebardjo yang menjemput Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok berhasil membujuk golongan muda agar tak terburu-buru memproklamasikan kemerdekaan. Akhirnya, pada 16 Agustus malam, di rumah Laksamana Muda Maeda, Soekarno-Hatta menyiapkan teks proklamasi.

Penyusunan naskah proklamasi turut disaksikan Sukarni, BM Diah, Sudiro dan Sayuti Melik. Setelah konsep disepakati, naskah diketik oleh Sayuti Melik.

Pembacaan teks proklamasi ini awalnya akan dilakukan di Lapangan Ikada. Lantaran alasan keamanan, kemudian lokasi pembacaanpindah ke Jalan Pegangsaan Timur No 56. (bel/may)