Ditutup Karena Sediakan PSK, Warung Klerkeran Dipastikan Tak Boleh Buka Kembali

4844

Probolinggo (wartabromo.com) – memutus prostitusi terselubung berkedok warung kopi, warung di Klerkeran, Desa Klampokan, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo ditutup petugas. Penutupan warung esek-esek ini dipastikan tetap dan dijamin tak buka kembali.

Warung kopi milik SY (33) itu, ditutup oleh Satpol PP Kabupaten Probolinggo dengan cara memasang banner penyegelan. Langkah terakhir ini dilakukan setelah pemilik warung ogah menaati sejumlah peringatan, setelah didapati menyediakan wanita pekerja seks.

“Peringatan tersebut tidak dihiraukan oleh pemilik warung. Meskipun sudah kami razia beberapa kali. Sehingga kami bersama dengan petugas yang lainnya menutup tempat ini,” kata Mashudi, Kasi Operasi dan Pengendalian (Opsdal) Satpol PP Kabupaten Probolinggo, kemarin.

Baca Juga :   Terjaring Razia, 2 dari 7 Kupu-Kupu Malam Pasuruan Positiv HIV

Ia juga menjamin pasca penutupan, warung di Klerkeran tersebut tidak akan beroperasi. Karena pemilik warung sudah menandatangani surat pernyataan di atas materai.

“Kalau kembali beroperasi, maka kami (Satpol PP,red) bersama dengan perangkat desa lainnya sepakat untuk membongkar tempat yang sudah disegel ini,” kata Hudi.

Warung kopi remang-remang di Klerkeran sudah beroperasi sejak tahun 80-an. Tempat itu acapkali dirazia oleh Satpol PP maupun Polres Probolinggo.

Namun, pemiliknya selalu lolos dari jetatan hukum. Bahkan peringatan petugas diabaikan. Begitu hari ini dirazia, besoknya beroperasi lagi.

“Tempat bekas lori tebu tersebut mendapatkan protes dari masyarakat dan para tokoh desa. Tadi sudah tanda tangan. Lagipula saya jamin kalau tempat ini, tidak akan buka dan tidak akan pernah beroperasi lagi sampai hari kiamat,” tegas Kepala Desa Klampokan, Doni Sandi.

Baca Juga :   5 PSK Dijaring Polisi saat Asyik Layani "Tamu" di Villa Puncak Tretes

SY, selaku pemilik mengaku, kalau dirinya terpaksa menyewa tempat untuk dijadikan bisnis esek-esek. Terdesak untuk dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari menjadi dalihnya. Tidak ada faktor lain.

“Hanya karena kebutuhan sehari-hari, untuk makan dan yang lainnya. Kalau wanitanya cuma ada dua orang saja, sekali main cuma Rp70 sampai Rp100 ribu,” ujar wanita asal Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo ini. (cho/saw)