Sungai Baujeng Hampir 5 Tahun Tercemar Limbah, Warga Tersiksa Tak Mendapat Perhatian Pemerintah

4573
Kolase foto sungai Baujeng, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan. Terlihat perbedaan kondisi sungai saat ini dibandingkan pada saat tahun 2016. Foto: istimewa

Beji (WartaBromo.com) – Sungai di Desa Baujeng, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan diduga tercemar limbah pabrik. Warga seperti tersiksa, karena setiap waktu harus mencium bau busuk akibat pencemaran.

Dari sejumlah keterangan terungkap, tercemarnya sungai yang berdekatan dengan pemukiman itu, sudah terjadi nyaris lima tahun lamanya.

Sungai yang seharusnya menjadi penopang kebutuhan dasar itu kini justru menjadi ancaman warga.

Berdasar penelusuran, bau menyengat dari sungai Baujeng tersebut begitu terasa. Mengalir tak terlalu deras, air sungai juga berwarna kehijau-hijauan.

Keresahan sepertinya ditampakkan warga dengan menuliskan kalimat satire pada sebuah gardu, yang berada di pinggir sungai.

SELAMAT DATANG DI WISATA KALI BUSUK,” kalimat pada gardu yang tertulis berwarna merah.

Bahkan pada sebuah foto yang dimiliki oleh seorang warga bernama Yantonius, sungai tersebut justru digunakan sebagai sarana bermain dan berenang bocah Baujeng.

Padahal foto tersebut dikatakan Yanto diambil pada tahun 2016. Namun saat ini kondisi sungai berbeda, cukup mencolok, dan sudah tak bisa lagi dimanfaatkan meski sekadar bermain air.

Ketua Karang Taruna Baujeng, Faisol Efendi mengatakan, keresahan warga cukup beralasan, karena cemaran sungai sudah meluas sampai ke sumur warga.

Belum lagi soal ketakutan warga mengenai ancaman kesehatan yang bakal menimpa, akibat pencemaran sungai.

“Malah dua-tiga hari lalu, ikan yang dibudidayakan warga, mati,” ungkap Faisol, Jumat (30/8/2019).

Aduan, ditegaskan sudah berkali-kali disampaikan, ke sejumlah instansi Pemerintah Kabupaten Pasuruan, bahkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Namun, sepertinya pemerintah sebagai pemangku kebijakan tak juga memberikan respon, segera membantu warga Baujeng.

Diungkapkan kemudian, bila pencemaran terjadi diduga adanya pembuangan limbah, di antaranya dilakukan oleh pabrik teh dalam kemasan, yang tak jauh dari aliran sepanjang sungai itu.

Dugaan tersebut, menurut Faisol tatkala pada satu waktu warga melakukan aksi protes hingga menelusuri aliran pencemaran sungai.

“Saat itu, kami juga ambil sampel. Nah, mengarahnya ke pabrik CS2, yang memproduksi teh gelas,” tutur Faisol.

Upaya komunikasi warga ke pihak manajemen pabrik dimaksud, juga sudah dilakukan. Malah, komunikasi bersifat aduan itu sudah tak terhitung dilakukan warga maupun pemuda sekitar.

Mewakili warga, Faisol meminta pemerintah daerah dapat segera menuntaskan problem pencemaran ini. Setidaknya menjawab aduan tertulis yang telah dilayangkan.

“Karena memang benar-benar meresahkan,” pungkasnya. (ono/ono)