Begini Nasib Siswa yang Ambil HP Disita Guru dengan Bawa Celurit

5938

Jogja (WartaBromo.com) – Siswa yang membawa celurit ke sekolah untuk mengambil handphone akhirnya meminta maaf kepada pihak sekolah. Permohonan maaf ini disertai perjanjian hitam di atas putih antara orang tua siswa dan Kepala Sekolah.

Gallang Rahmadani menjadi perbincangan setelah videonya tersebar di dunia maya. Ia membawa sebilah senjata tajam jenis celurit, diduga untuk mengambil handphone yang disita salah seorang guru.

Meski baru viral pada Rabu (11/9/2019) pagi, ternyata peristiwa ini sudah terjadi pada Jumat (6/9/2019) lalu sekira pukul 09.30 WIB. Siswa SMPN 5 Ngawen, Dusun Jurangjero, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul ini akhirnya meminta maaf pada hari ini.

Kedua belah pihak kemudian membuat surat perjanjian yang berisi 4 poin kesepakatan. Gallang diwakili oleh Tomo Sumito, meminta maaf kepada guru yang diwakilkan oleh Sriyana, Kepala Sekolah.

“Pihak pertama sanggup meminta maaf kepada pihak kedua atas kejadian tersebut dan pihak kedua memberi maaf kepada pihak pertama,” isi point pertama perjanjian.

Dalam video, pria yang mengambil gambar sempat mengatakan jika Gallang dikeluarkan dari sekolah. Namun dalam surat perjanjian itu disebutkan jika siswa ini tetap menjadi peserta didik di SMPN 5 Ngawen.

Kedua belah pihak kemudian menyepakati untuk tidak saling menaruh dendam satu sama lain. Pun pada poin terakhir, tidak melaporkan kejadian ini ke polisi.

“Kedua belah pihak sanggup untuk tidak membuat laporan polisi terkait siapapun dan apapun yang berhubungan dengan kesalahpahaman tersebut,” tulis poin terakhir perjanjian.

Dalam selembar surat ini juga dinyatakan jika tidak ada unsur paksaan saat pembuatan kesepakatan. Untuk itu surat kemudian ditanda-tangani kedua belah pihak.

Diberitakan sebelumnya, Seorang siswa menjadi perbincangan warga net setelah membawa sebilah senjata tajam ke sekolah. Senjata tajam ini digunakan untuk mengancam guru yang merampas handphonenya.

Pria berkaos merah itu merupakan seorang siswa yang diduga kecanduan game online. Saat sedang bermain game inilah kemudian Gallang ketahuan guru.

Handphone kemudian disita oleh sang guru. Sementara Gallang pulang ke rumah untuk mengambil senjata tajam. Celurit ini digunakan diduga untuk menakut-nakuti atau mengancam sang guru, supaya mengembalikan HPnya. (may/ono)