Mendengar Sejarah Silat Kuntu Mancilan, Pencak Khas Pasuruan

834
“Kuntu berarti bangkit, artinya mengajak kita semua untuk bangit melawan penindasan,”

Laporan: Ardiana Putri

BELAJAR tentang budaya asli sebuah daerah memang tidak akan ada habisnya. Siapa sangka, Kota Pasuruan memiliki sebuah seni bela diri asli yang telah ada sejak era Kolonial Belanda. Pencak Silat Kuntu Mancilan namanya.

Sebuah warisan budaya yang hingga kini tetap lestari. Para pendekar dan guru-guru Kuntu terus saja berjuang di tengah keterbatasan. Para pesilat Kuntu sudah tak diragukan lagi prestasinya. Berbagai kejuaraan tingkat regional bahkan nasional dibabat habis oleh kerja keras mereka.

Pencak Silat Kuntu Mancilan memang sudah tersohor. Namun tak sedikit orang yang memahami sejarah pencak silat asli tanah Suropati ini.

Beberapa waktu lalu, WartaBromo menemui sesepuh Desa Mancilan untuk mengulik sejarah lahirnya Pencak Silat Kuntu ini.

Letaknya tak seberapa jauh dari pusat kota, Desa Mancilan terletak di Kelurahan Pohjentrek, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan.
Hampir semua anak di Desa Mancilan berlatih silat asli desanya ini. Ibarat kata, bukan penduduk Mancilan jika tak berlatih silat.

Menurut Machdar, sang sesepuh desa, kesadaran anak-anak Desa Mancilan sangat tinggi untuk turut melestarikan warisan budaya nenek moyangnya ini.

“Kuntu itu artinya bangkit. Maksudnya menyuruh kita semua untuk bangkit melawan penindasan,” ujar Machdar membuka obrolan.

Pencak Mancilan memang ditujukan menggembleng pendekar untuk melakukan perlawanan pada penjajah. Itulah yang ia maksud sebagai perang melawan penindasan.

Seakan tak sabar, ia membeberkan sejarah Pencak Silat Kuntu Mancilan. Singkat cerita, dahulu terdapat seseorang yang dapat dibilang memiliki ilmu tinggi. Meski dilarang masuk ke hutan larangan yang penuh binatang buas, ia tetap keukeuh untuk masuk dan keluar dengan selamat.

Penduduk Desa Mancilan terheran-heran lalu mengapresiasinya dengan memberikan tanah di desa mereka untuk ditinggali orang tersebut. Ia bahkan memboyong keluarganya untuk sama-sama tinggal di Mancilan. Beberapa tahun bergulir, berdirilah dua perguruan silat di Mancilan.

“Dulu berdiri dua perguruan, yaitu Persatuan Pencak Pusaka Mancilan yang berada di sebelah timur, dan Pencak Untung Suropati Mancilan di sebelah barat. Keduanya bersaing meskipun masih dalam ikatan saudara,” cerita Machdar.

Namun Malik, pimpinan perguruan barat meninggal dunia terlebih dulu. Sayangnya ia tak dikaruniai keturunan. Kemudian disusul Fakih Abdul Rohman pimpinan pencak timur yang juga meninggal dunia.

Bedanya, Fakih memiliki banyak keturunan, salah satunya Khotib yang hingga kini meneruskan perjuangan nenek moyangnya melestarikan Silat Mancilan.

“Kedua perguruan akhirnya sepakat untuk kembali bergabung. Sejak saat itu, hanya ada Silat Kuntu di Mancilan,” lanjutnya.

Kini perguruan Kuntu Mancilan bertambah kuat serta telah tersebar di berbagai penjuru menjadi puluhan ranting.

Khoiriyah, salah satu guru Pencak Mancilan berharap seni bela diri asal Pasuruan ini tetap lestari. Ia pun tak berharap banyak, hanya ingin anak-anak didiknya menjadi manusia bermoral lewat pelajaran-pelajaran yang didapatkannya dari Pencak Kuntu Mancilan. (*)