Gunung Arjuno; Antara Mitologi dan Jejak Purbakala (1)

2512
Sebagai gunung tertinggi keempat di Pulau Jawa, Gunung Arjuno adalah keramat. Bukan hanya dari sisi mitologi, tapi juga ekologi.

Laporan M. Asad

KERAMAT, merujuk definisi yang diberikan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bisa diartikan sebagai sesuatu yang suci atau bertuah.

Begitulah Gunung Arjuno. Sebagai gunung tertinggi keempat di Pulau Jawa, gunung ini oleh sebagian orang diyakini sebagai tempat keramat.

Bukti kekeramatan itu pun dikaitkan dengan sematan ‘Arjuno’ sebagai nama gunung dengan ketinggian 3.339 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu. Hierarkinya, satu level di bawah Gunung Semeru di kalangan penganut kepercayaan.

Keyakinan sebagai tempat bertuah itu pula yang menjadikan pegunungan ini dipilih sebagai tempat menyendiri. Sekadar berkontemplasi untuk mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widiwasa.

“Dulu, banyak orang-orang di zaman kerajaan yang menjadikan tempat ini untuk bersemedi,” kata Nigel Boulough, sejarawan asal Inggris yang akrab disapa Hadimulyo.

Jejak itu pun bahkan bisa disaksikan hingga saat ini. Banyak peninggalan purbakala berupa candi dan tempat pertapaan di sisi lereng sebelah timur.

Ada Goa Oentobogo, Candi Lesung, Candi Semar, Candi Makutoromo, hingga Sendang Dewi Kunti. Sebagian besar diambil dari nama-nama dalam tokoh pewayangan.

Pada hari-hari tertentu, lokasi-lokasi tersebut banyak dibanjiri pengunjung. Utamanya pada malam satu Suro, persis malam pergantian tahun baru dalam kalender Jawa.

“Kalau pas malam Suro begitu, pengunjung bisa sampe seribu lebih,” kata Kepala Desa Tambakwatu,.Djatmiko kepada WartaBromo.com.

Dusun Tambakwatu, Desa Tambaksari Kecamatan Purwodadi memang satu dari sekian pintu masuk untuk ke Gunung Arjuno. Akses ini biasanya dipilih karena merupakan jalur tercepat untuk mencapai tempat-tempat sakral itu.

Selain Tambakwatu, pengunjung atau pendaki bisa melalui Batu, Lawang, Kabupaten Malang, atau juga Tretes, Prigen, Kabupaten Pasuruan. “Cuma, kalau tujuannya mau ritual ya biasanya lewat sini,” terang Djatmiko.

Djatmiko mengatakan, wilayah Tambakwatu memang banyak bertebaran tempat ‘suci’ peninggalan orang-orang terdahulu. Tidak mengherankan bila kemudian banyak pengunjung yang mendaki ke sana untuk nyepi atau sekadar napak tilas.

Di jalur ini pula, selain situs purbakala peninggalan kerajaan, terdapat komplek peristirahatan Tampuono. Laiknya rumah peristirahatan di tengah hutan, fasilitas tersebut terdiri dari beberapa bangunan semi permanen. Para pendaki juga biasanya memanfaatkan tempat ini untuk ngecamp.

Tepat di bawah komplek ini, terdapat sumber Dewi Kunti. Konon, air dari sumber ini berkhasiat membuat awet muda, melahirkan ketenangan batin, dan lain sebagainya. (Bersambung)