Warga Blokade Jalan Menuju Tambang Pasir di Pakuniran

297

Pakuniran (wartabromo.com) – Warga menutup akses jalan menuju lokasi galian pasir di batas Desa Pakuniran – Desa Patemon, Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo, Jumat (4/10/2019). Namun, mereka tak berkutik saat aparat kepolisian dan TNI tiba di lokasi penutupan.

Puluhan warga dari 2 desa itu, secara spontanitas datang ke lokasi tambang di Sungai Pancar Glagas. Mereka kemudian menutup portal jalan akses menuju galian.

Aksi ini dipicu gara-gara aktivitas alat berat telah merusak ekosistem dan sumber air di sekitar lokasi.

“Sumur warga yang rumahnya di dekat tambang banyak yang kering,” tutur Subaidi, salah satu warga.

Tak hanya menimbulkan efek negatif pada lingkungan, keberadaan galian pasir dengan alat berat itu berpotensi mengurangi pendapatan warga.

Sekadar diketahui, sebagian besar warga selama ini mengantungkan hidupnya sebagai penambang pasir tradisional. Nah, petambang tradisional, tentunya tak sebanyak dengan penambang modern.

Subaidi, yang mengaku menambang sejak lulus SD ini menuturkan, dalam sehari mampu mendapat penghasilan sekitar Rp200 ribu. Namun, pendapatannya kali ini anjlok menjadi Rp80 ribu saja.

“Ini satu-satunya pekerjaan kami selama ini, mau kerja sebagai petani kami tidak punya sawah. Rp200 ribu saja itu kami dapat kalau lembur. Jadi penghasilan kami sebagai penambang tradisional berkurang, jadi kami tutup jalannya,” ungkap Subaidi.

Kepala Desa Patemon, Muhammad mengakui warga resah terhadap aktivitas tambang dengan alat berat itu sudah menjadi persoalan, dalam beberapa hari terakhir.

“Adanya alat berat dan sumur mengering. Selain itu yang paling dikhawatirkan, ketika musim penghujan nanti, efeknya rumah warga banyak yang terkikis air,” kata Muhammad di lokasi penutupan portal.

Aksi warga tak berlangsung lama. Itu setelah anggota Polsek dan Koramil Pakuniran datang ke lokasi. Petugas kemudian membubarkan massa dan membuka kembali portal jalan. Di sisi lain, pengelola galian pasir yang ditengarai dimiliki keluarga penguasa di Probolinggo, tidak ada di lokasi. (cho/saw)