Diterjang Badai Pasir, Listrik di Lereng Bromo Padam

574
Tiang listrik di Kecamatan Tosari saat terbawa angin. Foto : Rama.

Tutur (WartaBromo.com) – Badai pasir menerjang di Lereng Bromo. Peristiwa ini mengakibatkan listrik padam hingga dikeluhkan warga.

Listrik padam di antaranya dialami warga Ngadirejo, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, dilaporkan terjadi sejak Sabtu, 19 Oktober kemarin.

“Listriknya padam mulai malam Minggu kemarin. Kabarnya karena tiang listriknya ada yang roboh,” ujar Rama Dianto, warga Ngadirejo, Senin (21/10/2019).

Sepengetahuan Rama Dianto, terdapat 2 tiang listrik yang roboh, berada di Kecamatan Tosari, masing-masing berada di Desa Tosari dan Desa Baledono.

Bukan hanya itu, angin yang sebabkan badai pasir ini juga mengakibatkan sejumlah pohon tumbang. Kabel listrik pun terlihat putus karena pohon tumbang ini.

Kondisi ini karuan saja dikeluhkan. Pasalnya, aktivitas warga terganggu, mulai tak dapat manfaatkan listrik hingga tersendatnya perjalanan, gara-gara pohon tumbang.

“Sampai tadi pagi pas saya ambil gambar (kabel putus, red) sepertinya belum ada (PLN, red),” lanjutnya.

Terpisah, Edy Supriyatno, Camat Tutur membenarkan adanya terjangan angin kencang hingga badai pasir Bromo.

Meski demikian, kondisi saat ini disebutnya berangsur membaik, meski aktivitas warga terbilang masih terhambat.

“Sekarang sudah lumayan (reda). Kemarin itu cukup besar di Ngadirejo, seperti gelap saat siang. Yang parah memang Ngadirejo yang perbatasan Tosari,” ujarnya melalui sambungan telepon.

Berkenaan dengan listrik padam, Edy mengatakan lumrah terjadi. Aliran listrik seringkali sengaja dipadamkan, bila saja ada angin kencang atau badai di wilayah Lereng Bromo.

“Kemarin ada pemadaman listrik karena biasanya secara otomatis kalau ada angin besar itu aliran listrik di wilayah atas sana mati. Karena kuatir ada pohon tumbang dan lain-lain,” jelasnya.

Saat ini pihaknya hanya bisa mengimbau warga supaya berhati-hati jika akan berpergian. Warga disarankan memakai perlengkapan seperti masker untuk melindungi dari debu dan pasir. (may/ono)