Waspadai “Lahar Dingin” Arjuno!

4732
Satu sudut blok Lincing wilayah Gunung Arjuno setelah terbakar.
Hujan segera tiba. Seperti biasa, ancaman banjir pun di depan mata. Masyarakat diminta mewaspadai lahar dingin berupa material sisa kebakaran Gunung Arjuno-Welirang-Ringgit lalu.

Laporan M. Asad

LAYANAN Google Wheather sempat merilis data suhu udara mencapai 37 derajat selsius bersamaan dengan kebakaran hebat yang melanda kawasan Arjuno-Welirang, pekan kedua-ketiga Oktober lalu.

Belakangan, angkanya semakin turun.
Per Minggu (20/10/2019) Google mencatat suhu udara “hanya” mencapai 30 derajat selsius.

Tepat bersamaan dengan itu pula, kebakaran di wilayah hutan itu berhasil dikendalikan, meski ti titik-titik api dalam skala yang lebih kecil masih terpantau.

Di sisi lain, data cuaca versi Google itu setidaknya bisa menjadi penanda bakal berakhirnya musim kemarau kali ini.

Terlebih, menurut dokumen Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dari 342 zona musim (ZOM) mayoritas musim hujan diperkirakan mulai November nanti.

“Musim (ZOM) diprakirakan umumnya mulai bulan Oktober 2019 sebanyak 69 ZOM (20.2%), November 2019 sebanyak 161 ZOM (47.1%), dan Desember 2019 sebanyak 79 ZOM (23.1%),” tulis dokumen yang ditandatangani Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.

Bagi sebagian masyarakat Pasuruan, musim penghujan tak ubahnya momok. Itu lantaran sebagian wilayah ini acapkali menjadi langganan banjir saat musim hujan tiba.
Bukan hanya kabupaten, tapi juga Kota Pasuruan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan, Bakti Jati Permana tak mengelak hal tersebut, Selama ini, beberapa titik di wilayahnya memang kerap menjadi langganan banjir.
Di antaranya Gempol, Beji, Bangil, Kraton, Rejoso, hingga Grati.

Peta banjir Kabupaten Pasuruan per Februari 2019.

“Untuk banjir, hampir semua daerah yang ada di pesisir,” terang Bakti.

Khusus tahun ini, ia pun meminta masyarakat lebih waspada. Pasalnya, kebakaran hutan yang terjadi beberapa waktu lalu diperkirakan akan memberi dampak yang lebih serius. Utamanya, mereka yang tinggal di daerah hilir sungai.

Bakti mengungkapkan, selama ini banjir yang terjadi disebabkan limpahan air sungai. Sungai-sungai besar seperti Welang, Kedunglarangan, Wrati dan Rejoso adalah yang paling banyak memicu terjadinya banjir.

Tahun lalu, ribuan warga di Rejoso bahkan harus hidup dari nasi bungkus setelah permukiman mereka terendam selama berhari-hari.

Kekhawatiran adanya dampak lebih pada imbas kebakaran hutan lalu juga disampaikan Diono Yusuf, pegiat lingkungan asal Satu Daun.

Menurutnya, ribuan hektare lahan di Arjuno-Welirang diyakininya akan memicu terjadinya banjir “lahar dingin”.

“Rangkaian kebakaran yang, terjadi meninggalkan tumpukan sisa abu bakar yang cukup banyak. Dan, material itu otomatis akan ikut terbawa turun saat hujan nanti,” terang lelaki asal Jatiarjo, Prigen ini.

Menurut Diono, ada beberapa DAS sungai yang patut diwaspadai karena menjadi jalur material nanti. Di antaranya, Kali Welang, Kedunglarangan, dan juga Wrati.

Dikatakan Diono, masyarakat yang tinggal di sekitat DAS sungai ini perlu lebih berhati-hati karena seluruhnya berhulu di Arjuno-Welirang.

“Kami tidak menakut-nakuti. Tapi, kalau melihat bagaimana kebakaran itu terjadi, sangat mungkin banjir lahar dingin itu akan terjadi. Akan lebih baik kalau kita waspada, meski sebenarnya juga tidak berharap itu terjadi,” jelas Diono.

Kabupaten Pasuruan memang punya pengalaman buruk terkait banjir. Kisaran 2007-2008 silam, banjir bandang terjadi hingga merenggut korban jiwa.

Yang perlu dicermati, peristiwa itu terjadi setelah hutan Arjuno Welirang terbakar hebat pada musim kemarau sebelumnya.

Pada penghujung 2017, peristiwa serupa juga terjadi. Untuk kali pertama, air bah yang memenuhi sungai di pinggir Jalan Raya Purwosari-Malang meluber hingga ke jalan raya.

“Artinya, pola peristiwanya hampir sama. Kalau dulu karena ada kebakaran, pada 2017 karena imbas proyek tol,” terang Diono.

Gunawan Wibisono, ahli hidrologi asal Universitas Merdeka (Unmer) Malang mengatakan, secara teori, banjir terjadi karena rentang limpahan air menuju hulu terlalu cepat.

Ada banyak faktor yang menyebabkan hal itu terjadi. Salah satunya, fungsi hidrologi kawasan hutan yang tak lagi jalan.

“Kenapa tidak jalan? faktornya juga banyak. Misalnya, karena tegakan di wilayah hutan semakin tipis, banyak lahan kritis, hingga kebakaran hutan,” jelas Gunawan.

Ia pun mencoba memberikan gambaran lebih teknis soal kemungkinan banjir di kala hujan mengguyur itu. ke halaman 2