Fakta Santri dan Pesantren

315

Pasuruan (Wartabromo.com) – Ketika mendengar kata Pesantren, tak jarang yang terlintas di pikiran adalah tempat yang membatasi ruang gerak. Jangan salah, meski tak sebebas sekolah umum, banyak hal menarik dan unik yang hanya bisa dirasakan para santri.

Penasaran?

Nah, menyambut Hari Santri Nasional 2019, Wartabromo merangkum dari berbagai sumber beberapa hal menarik seputar santri dan pesantren.

1. Garda depan perjuangan kemerdekaan

Pemilihan 22 Oktober sebagai hari santri bukan tanpa alasan. Bila menengok ke belakang, pada tanggal tersebut terjadi peristiwa berdarah. Yakni para pejuang mempertahankan kemerdekaan melawan Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Saat itu, NICA datang sebagai perwakilan Sekutu untuk memerintah Indonesia yang telah merdeka.

Nah, KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, menyerukan kepada santrinya untuk ikut berjuang dalam menggagalkan misi tentara Belanda. Sayangnya, peran sentralnya di masa revolusi terpinggirkan dalam penulisan sejarah ‘resmi’ negara.

2. Terserang penyakit kulit

Selain tentang Hari Santri Nasional, ada juga hal yang tak pernah luput dari kehidupan di pesantren. Yakni, terserang penyakit kulit atau kudis.

Ya, penyakit satu ini biasa dialami oleh para santri baru. Datangnya penyakit ini tak ubahnya ujian awal para santri. Bahkan ada yang tak bisa duduk atau kesulitan untuk jalan. Uniknya, kudis akan hilang ketika kulit terasa kebal dan penyakitnya bosan bersarang di tubuh.

Tapi tenang, saat ini, banyaj pondok pesantren modern yang memiliki air bersih dan sanitasi yang baik. Jadi, tidak perlu khawatir dengan penyakit “anak pondok” ini.

3. Dikejar setoran

Setoran disini bukan seperti sopir angkot ya bolo. Kejar setoran yang dimaksud adalah setoran hafalan, baik hafalan Al Quran, Nadzaman, ataupun kitab.

Jika tidak mencapai target, santri akan mendapat hukuman, atau para santri menyebutnya dengan ta’zir. Bahkan santri bisa tidak naik kelas bila tak memenuhi jatah.

4. Ta’zir atau Hukuman

Hukuman atau ta’zir yang berlaku di pesantren tentunya sedikit berbeda dari umumnya. Para santri akan dihukum sesuai bobot pelanggarannya. Ada yang dicukur gundul, diceburkan ke kolam atau sungai, bahkan disetrap di halaman pesantren dan berkalungkan papan tulisan kesalahan.

Nah, yang ditunggu-tunggu santri lain ketika ada santri yang dihukum adalah menonton dan menyoraki mereka. Bukan bermaksud untuk membully, tapi itu dilakukan untuk tes mental dan melatih tanggung jawab.

5. Tirakat

Tirakat menjadi hal yang tak bisa dilepas dari kebiasaan santri. Biasanya mereka meminta ijazah kepada kyai, untuk amalan tertentu. Diantaranya, ngrowot (tidak makan nasi), puasa, shalat jamaah, manaqib, mujahadah, dalalil, ataupun yang lain. Amalan-amalan tersebut merupakan metode salafiyyah yang menjadi perekat masuknya ilmu ke hati.

Jadi, kalau ada santri makannya tidak seperti biasa, jangan heran. Mereka sedang menjalankan misi spiritual.

Gimana, cukup menjawab rasa penasaran kan?

Selamat Hari Santri Nasional 2019 bagi seluruh santri. Santri Unggul, Indonesia Makmur. (bel/may)