Ini Hikmah Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW

3234

Pasuruan (Wartabromo.com) – Bulan Rabiul Awal, merupakan salah satu bulan Agung dalam Kalender Islam. Pasalnya, pada bulan tersebut lahirlah Nabi terakhir yang menjadi panutan seluruh umat Islam, yakni Baginda Muhammad SAW.

Pada 12 Rabiul Awal tahun Gajah, nabi berjuluk Khotamul Anbiya’ itu dilahirkan ke dunia dari seorang Ibu bernama Siti Aminah.

Nah, untuk memperingati kelahiran junjungan umat Islam itu, digelar tradisi yang dikenal dengan Maulid Nabi. Biasanya, pada Maulid Nabi, berbagai lantunan sholawat berkumandang. Memuji ciptaan Allah yang tiada duanya itu dengan suka cita.

Perayaan Maulid, merupakan suatu wujud ungkapan rasa syukur dan kegembiraan serta penghormatan kepada Nabi Muhammad. Berkatnya, ajaran Islam, sampai kepada umat manusia.

Lalu sebenarnya, apa saja hikmah merayakan Maulid?

Dikutip dari beberapa sumber, Maulid Nabi memiliki hikmah bagi yang merayakannya. Berikut penjelasannya!

1. Maulid mendorong untuk bershalawat

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW biasanya diisi lantunan shalawat yang diserukan bersama-sama. Selain untuk menghormat Nabi, membaca shalawat juga menunjukkan kita menjalankan pada perintah Allah SWT. Sebagaimana tertulis dalam QS Al-Ahzab: 56 yang artinya,

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya.”

2. Mendapat limpahan rahmat

Memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, merupakan bentuk syukur, kegembiraan dan kesenangan dengan beliau. Bahkan, ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab, paman Nabi, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang Cahaya Alam Semesta itu, Abu Lahab pun memerdekakannya sebagai tanda suka cita.

Nah, karena rasa gembiranya itu, kelak di alam baqa’, siksa atas dirinya diringankan setiap hari Senin.

Begitu besar rahmat Allah terhadap siapapun yang bergembira atas kelahiran Nabi. Sekalipun, ia orang kafir.

Orang kafir saja mendapat rahmat, apalagi kita sebagai umat muslim. Allah akan menurunkan anugerah bagi umatnya yang beriman dan bertakwa.

3. Meneguhkan kembali kecintaan kepada Rasulullah SAW

Sebagai seorang mukmin, rasa cinta kepada Rasul-nya merupakan keniscayaan. Kecintaan pada Nabi pamungkas ini harus berada di atas segalanya yang ada di dunia. Baik itu harta, tahta, istri, bahkan anak ataupun pada diri sendiri.

4.Meneladani perilaku dan perbuatan mulia Rasulullah SAW

Dalam QS. Al-Ahzab: 21 disebutkan,

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

Maka dari itu, tanamkanlah keteladanan Rasul dalam keseharian. Dimulai dari hal terkecil hingga yang terbesar. Baik itu urusan dunia maupun akhirat.

Bagi yang sudah memiliki putra putri, sikap teladan terhadap Rasul-nya juga perlu ditanamkan sejak dini. Misalnya, membacakan kisah nabi sebelum tidur, membiasakan membaca bismillah setiap akan melakukan sesuatu, atau hal lain yang dapat memupuk keimanan buah hati.

5. Melestarikan ajaran dan misi perjuangan Rasulullah

Dalam Hadits Riwayat Malik, sebelum wafat, Rasul berpesan pada umatnya, “Aku tinggalkan pada kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat dengannya, yakni Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya sallallahu alaihi wa sallam”

Makannya, peringatan Maulid menjadi salah satu cara untuk melestarikan perjuangan Nabi Muhammad juga para Nabi lain. (bel/may)