Persyaratan CPNS Sulitkan Kelompok Disabilitas

572
Tampilan home sscn.bkn.go.id, website pendaftaran CPNS 2019.

Probolinggo (wartabromo.com) – Pemerintah saat ini tengah membuka keran CPNS secara besar-besaran. Namun, rekan-rekan Disabilitas di Kabupaten Probolinggo menyebut ada persyaratan yang menyulitkan.

Arizky Perdana Kusuma, salah satu penyandang tuna netra mengatakan, banyak jalur yang dibuka dalam CPNS tahun ini. Disebutnya ada beberapa formasi yang dikhususkan bagi disabilitas.

Namun, hal itu malah tidak mudah diakses oleh rekan disabilitas, lantaran ada persyaratan bisa membaca, berpindah tempat, dan sehat jasmani rohani.

“Nah ini banyak birokrasi yang tidak faham. Bukanya untuk disabilitas, tapi mintanya sehat jasmani rohani. Utamanya jasmani yang menuntut fisik. Itu salah satu persyaratan yang harus dipenuhi,” kata ketua Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Probolinggo itu, kepada wartabromo.com pada Selasa, 26 November 2019.

Pria yang terserang Glaukoma pada usia 9 tahun itu, menyebut masih banyak lembaga yang kurang kooperatif terhadap disabilitas. Bahkan secara terang-terangan, ia mengatakan ada admin RSUD. Soetomo Surabaya yang enggan memberikan keterangan disabilitas. Meski sudah mendapat rekomendasi dari poli mata.

“Kemarin ada teman saya yang sudah mendapat rujukan dari poli mata, kalau dia ini disabilitas netra. Tapi datang ke adminnya, katanya nggak berani karena bukan wewenangnya mengeluarkan keterangan itu. Padahal sudah ada rekom, sudah ada rujukan kalau disabilitas netra,” tutur guru di SMA LB Dharma Asih Kraksaan itu.

Ia meminta pemerintah memberikan perhatian dengan menyiapkan perangkatnya -baik perangkat keras maupun lunak- terkait penerimaan CPNS untuk para disable.

“Karena itu, juga berkaitan dengan beban kerja. Bukannya kami mengeluh, tetapi hal itu harus diperhatikan oleh pemerintah. Bukannya dibuka (penerimaan CPNS), lantas dibiarkan menggelinding sendiri,” lanjut pemegang gelar master pendidikan luar biasa dari Unesa itu.

Arizky sendiri terserang Glaukoma pada saat duduk di kelas IV SDN Sukabumi 10. Ia merasakan mata perih yang luar biasa pada siang hari. Matanya menjadi merah dan pandangan kabur. Kondisi itu, berlangsung cukup lama. Baru diketahui menderita Glaukoma ketika diperiksa di RSUD. Soetomo.

“Jelang naik kelas enam,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung peran orangtua yang menurutnya sangat penting bagi kaum disabelitas. Yakni mengenalkan anak mereka yang menyandang disabelitas ke lingkungan sekitar. Tidak menyembunyikan kekurangan anak dan tidak menganggapnya sebagai lain keluarga.

“Ketika glaukoma menyerang saya, ayah dan ibu tidak menyembunyikan penyakit saya ini dari tetangga. Sehingga tetangga tahu, menerima kondisi itu dan tidak mengucilkan saya. Semangat saya pun ikut terbantu, yang kemudian bisa hidup mandiri,” terang Rizky. (saw/ono)