Pertuni Ungkap 10 Ribu Warga Kabupaten Probolinggo Alami Kebutaan

251

Probolinggo (wartabromo.com) – Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Probolinggo menyebut ada 10 ribu warga Kabupaten Probolinggo alami kebutaan. Gangguan penglihatan itu lebih banyak berupa katarak atau keburaman (opacity) pada lensa mata.

“Ada sekitar 10 ribu warga di Kabupaten Probolinggo yang alami kebutaan. Baik kebutaan secara permanen maupun gangguan penglihatan. Disebabkan faktor genetik alias diturunkan dari orang tua kepada anak, kecelakaan, atau penyakit,” ujar ketua Pertuni Probolinggo, Arizky Perdana Kusuma pada Selasa, 3 Desember 2019.

Guru SLB Dharma Asih Kraksaan itu mengatakan, angka itu didapat pihaknya setelah melakukan survei bersama Yayasan Paramitra Jawa Timur dan Pemkab Probolinggo. Namun, angka itu bisa berkembang. Mengingat faktor gaya hidup juga berpengaruh pada penyebab kebutaan.

“Banyak rekan-rekan awas (melihat, red) yang abai dengan kesehatan matanya. Semisal menonton televisi dan smartphone berjam-jam. Hal itu tentu akan mempengaruhi kesehatan retina mata,” kata pria yang mengalami Glaukoma sejak duduk di kelas IV SD itu.

Rizky mengungkapkan, secara umum ada 5 hal yang menyebabkan kebutaan. Pertama adalah Katarak, yaitu keburaman (opacity) pada lensa mata. Dalam pengobatan katarak, lensa di dalam mata diambil dan diganti dengan lensa buatan yang jernih.

Kedua adalah Glaukoma, yang terjadi ketika tekanan cairan di dalam salah satu atau kedua mata meningkat secara perlahan. Tekanan ini merusak saraf optik dan retina, yang menyebabkan penurunan penglihatan tepi secara bertahap.

Ketiga adalah degenerasi makula yang disebabkan penuaan. Degenerasi makula dapat menyebabkan hilangnya pusat penglihatan akibat ketiadaan fotoreseptor (sel sensor cahaya).

Ada juga Retinopati diabetik, yaitu kerusakan sistemik yang disebabkan oleh diabetes mulai mempengaruhi retina. Kelima adalah Retinitis pigmentosa (RP), merupakan suatu penyebab kebutaan yang diwariskan.

“Masih ada teman-teman yang seringkali menjadikan kami sebagai guyonan. Semisal ketika menuntun mengarahkan kami ke tengah jalan, kemudian ditinggalkan. Karena itu, kami berharap orang awas memperlakukan kami dengan lebih manusiawi,” kata Wahyu Purnomosidi, penyandang netra siswa kelas X SMA LB Dharma Asih Kraksaan.

Sementara itu, Muhammad Fadholi dari Yayasan Paramitra Jawa Timur, mengakui masih banyak warga yang belum perhatian (care) terhadap rekan-rekan disabelitas. Selain menganggap sebagai aib, warga juga memperlakukan dengan layak. Sehingga, menurutnya, perlu gerakan masif untuk menyebarluaskan informasi terkait difabel. Termasuk dalam mengupayakan layanan yang aksesibilitas (atau keteraksesan, ketercapaian).

“Kami memulainya dengan melakukan pendampingan pada masyarakat dengan menggandeng instansi pemerintah daerah. Memberikan informasi dan penyadaran kepada warga, semisal melalui kelompok pengajian atau sarwah. Termasuk juga menggandeng rekan-rekan jurnalis,” ungkap Kiwil program I – SEE Kabupaten Probolinggo itu. (saw/saw)