Merandai Tanda Zaman di Atas Kain Kanvas

469
Drawing berjudul Yang Lalu dan Yang Akan Datang Tak Terbilang karya Dadang Rukmana.
Setiap zaman punya masalahnya sendiri. Pesan itu yang coba disampaikan para perupa di ajang pameran lukis bertajuk Merandai Tanda-Tanda Zaman, Kota Pasuruan.

Laporan: Amal Taufik

IKAN-ikan itu bukannya berenang di lautan, melainkan terbang di luar angkasa. Sementara nelayan berusaha mengejarnya. Menerbangkan perahu mereka ke langit.

Cerita itu tergambar dari lukisan karya Sihabudin yang terpajang di pameran lukis di Gedung Serbaguna Yon Zipur 10, Jalan Balaikota, Kota Pasuruan.

Melalui lukisannya itu, Sihabudin menyampaikan sindiran betapa ekosistem laut telah rusak. Sampai-sampai ikan pun enggan berenang di sana dan memilih luar angkasa sebagai habitat barunya.

Kurator Sudjud Dartanto mengapresiasi “Awang-Awang” karya Sihabudin.

Bukan hanya karya Sihabudin yang berjudul ‘Awang-awang’. Sederet karya pelukis lain yang menonjolkan kritik atas keadaan zaman juga turur dipamerkan pada kegiatan yang berlangsung 4-8 Desember itu.

Di antaranya hasil goresan tangan Koeboe Sarawan berjudul “Ibu”. Bedanya, karya ini bernuansa apokaliptik. Dua laki-laki terkapar, dan di depannya, awan menggumpal seperti kobaran asap kebakaran.

Dengan satu wajah perempuan tua penuh kerutan, sang perupa seolah ingin mempertegas umur bumi yang kian renta.

Olehnya, bumi diterjemahkan sebagai sesuatu yang feminim; sebagai rahim, tempat asal muasal kehidupan serta sifatnya yang juga merawat irama kehidupan.

Sementara apa yang di depan mata “ibu bumi” adalah distopia. Udara yang tak lagi sehat; hutan-hutan dibakar; makhluk hidup terkapar kelaparan. Sang “ibu” yang renta hanya bisa tertegun melihat keadaan itu.

Drawing “Ibu”, karya Koeboe Sarawan.

“Kita ingin mengulang lagi karya seni rupa sebagai alat untuk merekam spirit zaman,” ujar Sudjud Dartanto salah satu kurator dalam pameran ini.

Di era revolusi industri 4.0, menurut Sudjud, ada banyak tanda-tanda yang menuntut untuk diperhatikan. Maka, pameran ini ialah ruang bagi perupa untuk mengungkap tanda-tanda itu.

“Karya-karya yang dipamerkan di sini diharapkan bisa menjadi jendela untuk melihat spirit zaman,” lanjut Sudjud di sela kegiatan.

Sejumlah 46 karya dipamerkan di sini. Sebagian besar, 29 karya merupakan hasil perupa dari Pasuruan. Corak karya yang dipamerkan juga beragam, dari abstrak sampai realis.

“Kalau secara umum atau induk, bisa dikatakan simbolisme,” terang Sudjud kepada WartaBromo.com.

Disebut demikian karena semua perupa mengutarakan gagasan dan pengalamannya di atas kanvas dengan metafora. Seperti contohnya karya Sihabudin dan Koeboe Sarawan tadi.

Galeri Nasional (Galnas) selaku penyelenggara memilih Kota Pasuruan sebagai lokasi pameran karena progres pergerakan seni rupa di sini dinilai luar biasa. Sejak tahun 2013, menurut Galnas, perkembangan seni rupa di Pasuruan terus meningkat.

“Kami dari Galeri Nasional mengamati pergerakan seni rupa di Pasuruan. Mereka memancarkan sinyal yang kuat,” ujar Ketua Pelaksana Pameran, Zamrud Setya Negara.

Selain gerakan seni rupa, tradisi seni gambar di Pasuruan sangat kuat, khususnya yang seni gambar yang bercorak realis.

Tradisi seni gambar realis sendiri di Indonesia meredup pasca rezim Soeharto memberangus Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), yakni pada tahun ’60-an.

Semenjak itu kanon kebudayaan Indonesia, termasuk seni rupa, didominasi kelompok seniman yang tergabung dalam kelompok Manifes Kebudayaan (Manikebu) dengan aliran humanisme universal.

“Kami bahagia. Tradisi seni rupa realis di Indonesia ternyata masih terus berlanjut.”

Sudjud berpendapat bahwa di Pasuruan pernah ada tradisi panjang seni gambar realis. Sebab rata-rata seniman Pasuruan adalah bukan seniman murni. Banyak dari mereka yang punya pekerjaan lain.

“Pertanyaannya bagaimana bisa mereka berkarya sebagus itu? Okelah kalau latihan. Tapi saya pikir tidak sesederhana itu. Asumsi saya, mungkin di tahun 60-an banyak perupa realis di Pasuruan,” ujarnya.

Mengenai sekat-sekat teritori yang terkadang menjadi penghalang seniman daerah untuk berkembang, hal itu dibantah oleh Sudjud.

Dengan berkembangnya akses terhadap dunia digital, seniman-seniman di daerah tumbuh menjadi pembelajar mandiri. Melalui platform digital, akses ke dunia luar menjadi tak terbatas.

Ia kemudian mencontohkan salah satu perupa Pasuruan Garis Edelweis yang karyanya beberapa kali ikut di pameran yang berskala internasional.

Terakhir, Sudjud menegaskan bahwa Pasuruan layak disebit sebagai Kota Seni Gambar. Argumentasinya bisa dilihat pada kanvas-kanvas perupa Pasuruan yang dipajang di pameran ini. ke halaman 2