Penahan Tebing Proyek PRIM di Sukapura Ambrol

336

Probolinggo (wartabromo.com) – Tembok Penahan Tebing (TPT) program Provincial Road Improvement Maintenance (PRIM) di ruas Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo ambrol pada Kamis sore, 5 Desember 2019. Tak kuat menahan aliran air sungai diduga jadi penyebabnya.

Asmadi, warga sekitar menuturkan, peristiwa ambrolnya TPT itu, didahului oleh hujan lebat yang melanda kawasan Bromo. Debit sungai di Sapikerep pada sore hari itu pun ia perkirakan cukup deras.

Akibatnya, tembok penahan tebing itu longsor hingga separuh jalan di bawah tugu penanda (signage) Wisata Agropolitan retak.

“Sungainya kecil, volume airnya besar. Mungkin karena air masuk ke sekitar tanah yang di TPT akhirnya ambrol. Jadi jalan yang ada sangat rawan longsor sekali. Sudah kita laporkan ke pihak terkait,” ungkap Asmadi.

Oleh warga, seputaran titik kerusakan itu selanjutnya diberikan tanda seadanya. Seperti karung berisi pasir, ditambah tangkai pohon untuk menunjukkan tanda bahaya.

“Mengingat itu jalan air sangat sempit, sedangkan volume air sangat besar. Sebaiknya tanah di ambil sebelah kiri kalau dari arah bawah atau Sukapura. Jadi kami akan minta izin sama Dinas Pertanian. Ini baru awal hujan, bisa jadi ada longsor susulan,” kata Gondo, warga lain soal upaya perbaikan tebing penahan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Anggit Hermanuadi mengatakan pihaknya sudah menerjunkan petugas TRC ke lokasi longsor.

Tali kuning sebagai tanda bahaya, disebutnya juga telah terpasang, menghindari hal tak diinginkan terjadi di jalur utama ke kawasan wisata Gunung Bromo tersebut.

“Kami sudah memasang tali kuning untuk pengamananan. Untuk tahap selanjutnya nanti akan kami koordinasikan kembali dengan Dinas PUPR,” kata Anggit.

Kabid Bina Marga pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Probolinggo, Asrul Bustami membenarkan jika TPT yang longsor itu merupakan bagian proyek PRIM.

“Saat proses pembangunan TPT, dari laporan pelaksanaan memang jalan sudah ada yang retak,” terang Asrul, ketika dihubungi secara terpisah.

Asrul mengatakan proyek yang rampung pada akhir Oktober itu, masih dalam masa pemeliharaan. Namun demikian, pihaknya saat ini masih mencoba mencari tahu penyebab longsornya TPT.

“Yang jelas mulai sekitar 2 bulan yang lalu jalan di bawahnya memang retak. Besok pagi masih mau diperiksa,” katanya. (cho/saw)