Mantan Kuli Bangunan Ini Sukses Kembangkan Kultur Jaringan

487
“Mantan kuli bangunan di Kabupaten Probolinggo berhasil mengembangkan bibit unggul melalui sistem kultur jaringan (Tissue Culture). Ia pun meraup untung jutaan rupiah tiap bulannya. Kesuksesan itu, membuat tempatnya menjadi rujukan sejumlah mahasiswa ilmu pertanian.”

Laporan : S. Adi Wardhana

PRIA tersebut yakni Abdul Nasir (49), warga Dusun Kramat, Desa Jabung Candi, Kecamatan Paiton. Tiap harinya ia berkutat di dalam ruangan berukuran 4×4 meter untuk mengisolasi mata tunas. Dikembangkan atau diperbanyak menjadi bibit unggul. Ia fokus pada berbagai jenis tanaman holtikultura.

“Awalnya bermula dari keprihatinan kami ketika melihat petani atau warga yang tidak bisa mendapatkan bibit unggul. Sehingga budidaya tanamannya tidak bagus hasilnya. Meskipun ada bibit unggul, namun tidak tersedia dalam jumlah banyak,” tutur Nasir kepada wartabromo.com.

Kultur jaringan atau teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti mata tunas, mulai dikembangkan sejak awal 2019. Cara ini dilakukan secara otodidak dari ilmu yang didapat melalui berbagai pelatihan yang diikutinya.

“Belajar otodidak, saya tidak punya keahlian pada ilmu pertanian. Hanya mantan kuli bangunan yang beralih menjadi petani karena kena PHK. Awalnya sering gagal, tapi saya terus mencoba. Setiap percobaan saya catat. Kadang ininya saya kurangi, yang lain ditambahi. Namanya juga mencari formula yang terbaik,” ungkap lulusan STM Korpri Kraksaan itu.

Pada tahap awal, semua peralatan termasuk mata tunas disterilisasi. Kemudian mata tunas itu dipotong. Dimasukkan ke botol yang sudah berisi formula mineral, gula, vitamin, dan hormon.

Setelah itu, tunas-tunas yang dihasilkan pada tahap multiplikasi dipindahkan ke media lain untuk pemanjangan tunas. Selanjutnya tunas mikro dipindahkan ke lingkungan di luar botol, yakni rumah kaca kedap serangga (screen house).

Dalam sebulan, ribuan bibit baru mampu diproduksi oleh suami dari Arbiya ini. Bibit kentang dalam sebulan mencapai 7.100 tunas, anggrek sebanyak 6.000 tunas, pisang Cavendish 1.500 tunas, aglonema merah 200 tunas. Plus bibit tanaman lain yang dipesan oleh warga.

Bibit kentang dijual seharga Rp3 ribu per tunas, pisang Cavendish Rp15 ribu, anggrek antara Rp5 ribu hingga Rp15 ribu, dan aglonema merah antara Rp25 ribu hingga Rp50 ribu.

Tinggal mengalikan saja berapa rupiah yang dapat diraup oleh penerima penghargaan riset dan teknologi dari Wakil Presiden Budiono pada 2014 itu.

“Itu kemampuan kami memproduksinya. Tapi kami memproduksi sesuai permintaan dari pelanggan. Kalau pisang, biasa datang dari wilayah Kalimantan. Kentang dari daerah Bromo, Krucil dan Jawa Barat,” ujar pria yang berdomisili di RT 04, RW 01 tersebut.

Ayah 2 anak itu menjelaskan berbagai keunggulan sistem kultur jaringan dibanding pembibitan tradisional. Di antaranya, pengadaan bibit tidak tergantung musim, bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak dengan waktu yang relatif lebih cepat, dan bibit yang dihasilkan seragam.

“Dari satu mata tunas bisa menghasilkan 10.000 bibit. Bibit yang dihasilkan bebas penyakit. Dapat diperoleh sifat-sifat yang dikehendaki. Metabolit sekunder tanaman segera didapat tanpa perlu menunggu tanaman dewasa,” tandasnya.

Berkat keberhasilannya mengembangkan kultur jaringan, tempatnya menjadi rujukan sejumlah universitas dan sekolah. Banyak mahasiswi dan siswa yang belajar di Pusat Kultur Jaringan Tri Karya Jadi. Seperti yang dilakukan oleh Firdaus Agustina Kansa, mahasiswi jurusan Agroteknologi Universitas Muhamadiyah (Unmuh) Malang.

“Memperdalam kultur jaringan dari pak Nasir. Bagi saya, berguru itu sebenarnya tidak perlu melihat latar belakang pendidikannya. Tapi lebih pada pengalaman yang dilakukan. Dimana pengalaman pak Nasir sangat banyak dan saya sadar apa yang didapat di bangku kuliah dengan di lapangan itu sangat berbeda,” terang dara berusia 23 tahun itu. (*)