Tanggapan “Miring” Quote Nadiem Soal Guru bak Pipa Bersih

2243
Nilai dari kalimat soal guru itu, malah cukup sering didengar. Biasa-biasa saja

Oleh Tuji

“Murid sebagai Gelas, dan guru sebagai Pipa. Air jernih akan tetap jernih jika gelas dan pipanya bersih”

POTONGAN kalimat Mendikbud Nadiem Makarim dalam beranda fanpage Facebook (FP FB) yang dimilikinya itu dilanjutkan dengan penjelasan makna dari kata “ilmu”.

Diungkapkannya, terhadap ilmu, bukan sebatas murid yang hatinya bersih, melainkan semangat hingga hati guru pun sepatutnya bersih.

Nadiem menggambarkan guru bak pipa yang seharusnya selalu bersih. Sehingga tatkala menyalurkan ilmu, kejernihannya akan terjaga, sampai kemudian diterima oleh murid. Dengan begitu, bisa jadi ilmu yang didapat lebih sempurna.

Kebetulan Nadiem meminta persetujuan quote yang dituliskan di halaman media sosialnya itu. Begini:

Menurut #SahabatNadiem setuju atau tidak dan bagaimana tanggapannya?

Tergelitik juga dengan kalimat menteri muda ini.
Terus terang saja, daripada menanggapi di kolom komentar, saya kok malah pengen corat-coret, memanfaatkan web WartaBromo.com.
Bukan apa-apa Agan Menteri, kebetulan saya aktif di situ. hehehe…

Boleh dikata pendapat Menteri Nadiem itu sederhana. Nilai dari kalimat itu, malah cukup sering didengar. Biasa-biasa saja.
Sik bentar. Apa ini Nyinyir? Komen miring? ehmm, nggak lah.

Sekali lagi ini bukan nyinyirin sang menteri. Tapi, nilai-nilai adigung ini, sejak dulu sudah ada. Peradaban dan budaya Nusantara ini begitu luar biasa menjaga adab, terutama di dunia pendidikan. Bisa juga noh direview, kehidupan dan proses belajar mengajar, semisal di lingkungan pesantren zaman baheula.

Baik. Bagaimana dulu -bahkan sekarang- guru disanjung, sampai-sampai dituliskan sebagai sosok pahlawan tanpa tanda jasa.

Itu lantaran, guru dinilai memiliki peran, sumbangsih. Rela berikan waktu, korbankan kebersamaannya bersama keluarganya, hanya demi murid-muridnya.

Nah, sang menteri ini sedianya menyusun kembali cetakan atau rekaman jasa dan pengorbanan guru nan mulia itu.
Disiratkan, guru sebagai sosok suci, yang oleh Menteri –yang konon punya banyak cerita di Pasuruan ini- ditulis sebagai pipa yang bersih.

Sebagai pemangku utama kebijakan di lingkungan pendidikan nasional, Nadiem Makarim tentu menuliskan arah guru pada semangat kemurnian.
Ya memang jadi kewajibannya mengingatkan peran dan posisi guru untuk menjaga kemuliaan dan pengabdiannya.
Kan belio-nya menteri… 😉

Quote itu, sepertinya jadi salah satu acuannya menapak, mengurai ragam problematika yang dihadapi guru dan murid dalam pemelajaran. Selanjutnya, setelah didapatkan catatan-catatan, dapat dimunculkan ketentuan maupun kebijakan pendidikan.
Kebetulan, tulisan kali ini tak ingin menyinggung-nyinggung urusan empat kebijakan, salah satunya ngehapus UN.

Nadiem, di satu kesempatan, kalimat kutipan tentang guru juga dituliskannya. Ia mengungkapkan istilah guru penggerak yang mengutamakan apapun, yang boleh berkorban, sekalipun terhadap karirnya.

So.
Mengingatkan kembali mental pendidik, sedianya merupakan satu hal yang hakiki. Karena ujung dari apapun kebijakan yang bakal dikeluarkan oleh menterinya Jokowi ini, nantinya juga pada sosok guru.

Sebaik apapun fasilitas pendidikan, sebagus apapun gedung sekolah, selengkap apapun alat peraga dalam kelas, kalau jiwa guru tak miliki kemurnian kala mendidik “putra-putri negeri” ini, sepertinya ambyar bro.

Tak bakal sampai tuh yang namanya “bangsa cerdas”. Tercerai berai dan nggak bakalan nyambung dengan tujuan kehidupan bangsa dan negara.
Hilang sudah keinginan dan cita-cita pendiri bangsa Indonesia ini.

Ehmm… Nadiem masih berusia 35 tahunan. Bekerja sebagai menteri masih beberapa bulan. Baru saja.

Tapi, ia sudah mencoba tancapkan ruh dan nilai-nilai dasar, bagaimana pendidikan nasional ini bertahan dan berkembang.

Ujung arah kebijakan pendidikan ditinjau dari kalimat “guru pipa bersih” itu saja, sebenarnya sudah cukup menjadi penilaian, sampai sejauh mana sang menteri nanti bekerja.

Kalau boleh sedikit lebay, izinkan kalimat ini dituliskan: Tetap tuntun, arahkan, dan pimpin anak-anak kami. Terus bangkitkan pendidikan hingga tujuan pendidikan nasional terengkuh.

Selamat bekerja Menteri Nadiem. (*)

*) Dari seorang wali murid di SDN Kebonsari Kota Pasuruan.