MUI Sebut Pelajar Probolinggo Terpapar Fundamentalisme

475

Probolinggo (wartabromo.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Probolinggo menyebut sikap fundamentalisme di kalangan pelajar SMA sederajat sangat tinggi. Temuan itu, berdasarkan riset yang dilakukan terhadap 100 penggiat rohani Islam (Rohis) sekolah.

Dalam penelitian kualitatif dengan 100 responden siswa SMA/SMK dan yang sederajat di kalangan aktivis rohani Islam (Rohis), diketahui betapa tinggi pelajar yang terpapar fundamentalisme. Sisi lain sikap religiusitas dan multikulturalisme di kalangan pelajar yang diteliti justru sangat tinggi.

“Sikap fundamentalisme tinggi itu indikatornya seperti, Alquran tidak boleh ditafsir ulang, pemerintah harus berlandaskan syariat Islam, dan indikator toleran,” ungkap Ketua Komisi Penelitian dan Pengkajian MUI Kota Probolinggo, Ilyas Rolis dalam seminar hasil penelitian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Probolinggo di Bale Hinggil, Probolinggo, Rabu, 18 Desember 2019.
Sikap fundamentalisme dengan indikator ‘Alquran dan Assunah merupakan satu-satunya sumber’ menunjukkan yang bersikap fundamentalisme sangat tinggi sebanyak 11 orang atau 11%, tinggi 85%, dan sedang 4%. Dengan indikator ‘Pemerintah harus berlandaskan syariat Islam’, sikap 100 responden adalah fundamentalisme sangat tinggi 24%, tinggi 36%, sedang 32%, rendah 7%, dan sangat rendah 1%.
Sedang dengan indikator intoleran dengan kuesioner ‘Islam tidak mengenal perbedaan, Islam harus satu, satu pemikiran, dan pemahaman dan penafsiran’, sikap para pelajar (responden) menunjukkan fundamentalisme sangat tinggi 7%, tinggi 82% dan sedang 11%.
Namun, muncul anomali ketika 100 responden ditanya soal sikap religiusitas seperti, doktrin (akidah) sangat tinggi 7%, tinggi 82%, dan sedang 11%. Masih soal religiusitas, terkait ibadah mereka menunjukkan presentase, sangat tinggi 32%, tinggi 60%, dan sedang 8%.
Penelitian menyangkut sikap multikultaralisme dengan indikator ‘sikap toleran’, kata Ilyas, menunjukkan, sangat tinggi 5%, tinggi 82%, dan sedang 11%. Masih soal multikulturalisme dengan indikator kenaekaragaman menunjukkan, sangat tinggi 18%, tinggi 79%, dan sedang 3%.
“Anamoli ini bisa disederhanakan, sikap fundamentalisme nilainya kurang sementara multikulturalisme dan religiusitas nilainya baik. Hal ini bisa saja pertanyaan kuisioner belum sepenuhnya dipahami siswa SMA. Mereka hanya bisa berpikir tunggal, tidak bisa berpikir bercabang,” ujar dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya itu.
Dalam seminar itu ada akademisi pembanding, yakni KH Dr Achmad Murtafi Haris, juga dosen Uinsa. Seminar dihadiri pengurus MUI, guru, dan ormas Islam di Kota Probolinggo. Bertujuan untuk mengetahui adanya warga Kota Probolinggo yang terpapar terorisme. Dimana Polres Probolinggo Kota pernah merilis, sebanyak 14 terduga teroris ditangkap di Probolinggo, akhir 2018 lalu.

“Asbabun nuzul, kami menggelar penelitian soal fundamentalisme terkait banyak terduga terorisme yang ditangkap di Kota Probolinggo pada 2018 silam,” kata Ketua Umu MUI setempat, KH Nizar Irsyad. (lai/saw)