Arti Tradisi Mudun Lemah untuk Bayi

14875

Pasuruan (Wartabromo.com) – Memasuki usia 7-8 bulan, orang Jawa biasanya menggelar tradisi “Mudun Lemah”. Tadisi asli Jawa ini, ternyata sudah dilaksanakan turun menurun sejak zaman dulu.

Mengutip kumparan, upacara tersebut digelar ketika bayi sudah mulai belajar duduk. Tujuannya ternyata cukup mulia, yakni supaya si anak dapat menjadi pribadi mandiri di masa depan.

Nah, acara dimulai dengan menapaki jadah 7 warna. Jadah, terbuat dari beras ketan, dicampur dengan parutan kelapa muda yang diberi garam untum penambah rasa gurih.

Ketujuh warna tersebut diyakini memiliki makna tertentu. Berikut arti dari masing-masing warna Jadah yang diinjak:

1. Merah

Bukan rahasia lagi, kalau merah identik sebagai lambang keberanian. Anak akan dituntun memijak di Jadah warna merah dengan harapan supaya anak memiliki keberanian dalam menjalani kehidupannya kelak.

Baca Juga :   Bayi Berusia 3 Hari Ditemukan di Teras Rumah Warga

2. Putih

Warna putih yang melambangkan kesucian, dipijak supaya kelak, si anak memiliki hati yang suci.

3. Hitam

Jangan salah, warna hitam disini tidak melambangkan hal buruk. Melainkan, sebagai lambang kecerdasan.

4. Kuning

Warna kuning dipilih, karena dipercaya dapat menuntun sang anak agar selalu diberi kekuatan dalam menjalani kehidupan di kemudian hari.

5. Biru

Warna satu ini, melambangkan kesetiaan. Maka dari itu, bayi yang menginjakkan kaki di Jadah warna biru, diharapkan memiliki sifat setia.

6. Merah Jambu

Siapa yang tak kenal dengan warna penuh cinta satu ini. Warna merah jambu dipilih dengan harapan, si bayi memiliki rasa cinta dan kasih sayang bagi siapapun.

Baca Juga :   Berbelit - Belit Saat Ditanya, Polisi Curiga Penemu Bayi Adalah Ayah Biologisnya

7. Ungu

Warna terakhir adalah ungu yang melambangkan ketenangan. Harapannya, kelak di kehidupannya dapat bersikap tenang dalam mengambil keputusan.

Wahhh… benar-benar penuh arti ya bolo?

Setelah menginjak Jadah, bayi yang masih belum bisa berjalan itu dipapah untuk naik tangga. Tangga ini bukan sembarang tangga. Tangga dalam ritual ini dibuat dari tebu jenis Arjuna.

Dalam bahasa Jawa, ‘tebu’ merupakan kependekan dari ‘antebing kalbu’. Artinya, kemantapan hati. Sedangkan Arjuna, melambangkan tokoh wayang yang dikenal bertanggungjawab dan tangguh.

Selanjutnya, bayi akan dimasukkan dalam kurungan ayam yang di dalamnya sudah diberi beberapa benda. Benda-benda tersebut mewakili profesi atau hobi apa yang kelak akan dipilih si bayi di masa depan.

Baca Juga :   Tanya-Jawab Kehamilan hingga Menyusui Saat Pandemi Covid-19, Yuk Simak!

Selama prosesi mudun lemah, yang ditunggu-tunggu adalah uang logam yang ditebar ibu si anak. Penyebaran uang yang dicampur dengan beras kuning ini dimaksudkan agar anak tunbuh menjadi pribadi yang dermawan.

Terakhir, bayi dimandikan di dalam air bunga setaman untuk kemudian dipakaikan baju baru. Akan ada 7 baju yang disediakan dan semuanya dicoba sampai baju ketujuh lah yang dipakai. Prosesi ini memiliki harapan agar anak tumbuh sehat, membawa nama harum bagi keluarga, hidup layak, makmur dan berguna bagi lingkungannya. (bel/may)