Disporaparbud Sesalkan Tarif Jip Bromo Melambung

1935

Sukapura (wartabromo.com) – Dinas Pemuda Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan (Disporaparbud) Kabupaten Probolinggo menyesalkan adanya oknum yang melambungkan harga sewa jip Bromo. Meski demikian, praktik curang itu disebut susah ditindak, karena pada tiga pintu masuk lainnya, penerapan tarif justru di luar batas kewajaran.

Kadisporaparbud, Sugeng Wiyanto mengatakan sesuai Peraturan Bupati Probolinggo nomor 15 tahun 2017, batas maksim tarif jip Bromo sebesar Rp700 ribu. Tarif ini berlaku bagi jip yang mengangkut tamu dari wilayah Kabupaten Probolinggo, lewat pintu masuk Cemoro Lawang, Ngadisari, Kecamatan Sukapura.

Sedang dari wilayah lain atau pintu masuk Kabupaten Pasuruan, Lumajang, dan Malang, penerapan tarifnya tidak sama, sesuai dengan ketentuan masing-masing daerah.

Belum lagi, dari penelusurannya diketahui, pengemudi jip daerah lain kenakan tarif terhadap wisatawan juga di luar kewajaran.

Pastinya tidak sesuai dengan Perbup atau ketentuan yang ditetapkan oleh Bupati Probolinggo.

“Sulit bagi kami untuk menerapkannya. Tetapi Perbupnya bukan tumpul lho. Hanya pelaksanaannya saja. Soalnya di tiga pintu lainnya, ya sama menerapkan harga di luar itu. Itu sudah menjadi kajian kami. Tetapi kalau kata orang sana (Bromo) musim libur ini adalah hari raya,” kata Sugeng.

Rencananya, Disporaparbud akan memasang media informasi (banner). Sebagai penanda bahwa di Kabupaten Probolinggo ada aturan batas maksimal untuk tarif jip. Sehingga, wisatawan bisa menolak jika harganya yang ditawarkan terlalu mahal.

“Kami juga akan mengimbau kepada para pengelola jasa wisata agar tidak keterlaluan dalam mengambil tarif. Nanti itu yang akan kami lakukan. Sehingga tidak ada lagi tarif kemahalan,” kata mantan Camat Tongas itu.

Sementara itu, Camat Sukapura Maryoto mengaku sudah mengkonfirmasi kejadian itu ke pihak paguyuban. Dari penelusuran paguyuban, ternyata oknum yang menaikkan harga sewa jip hingga Rp1,7 juta bukan anggota paguyuban.

“Informasi yang kami terima, dipastikan bukan dari anggota paguyuban. Tetapi, warga yang memiliki jip pribadi dan tidak biasa digunakan untuk jasa wisata. Kemudian memanfaatkan momen liburan ini, untuk menarik atau menyewakan jipnya,” kata Maryoto secara terpisah. (saw/saw)