Mengapa Apel Pasuruan Kalah Mentereng dengan Batu?

1993
Ditanam pertama kali, apel Pasuruan justru tenggelam oleh popularitas apel Batu. Apa sebab?

Laporan Amal Taufik

MEMBINCANG apel, yang melintas di benak kebanyakan orang adalah Batu. Kota di dataran tinggi antara Gunung Kawi-Anjasmoro dan Arjuno.

Bahkan, meski jumlah area tanam serta jumlah pohon apel di Batu kian menurun dalam beberapa tahun terakhir, sulit untuk mengubah Batu sebagai Kota Apel.

Padahal, seperti dikutip dari laman Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian, tanaman tersebut pertama kali ditanam di Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan.

Hingga saat ini pun, luas area tanam apel di Nongkojajar kini mencapai 2000 hektare lebih. Saking luasnya, apel menjadi salah satu komoditas andalan petani setempat selain sayur sayuran.

“Rata-rata petani memang mengandalkan pendapatannya dari apel ini,” kata Ketua Gabungan Kelompok Tani Citra Alami Desa Andonosari, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Heri Subhan.

Tutur adalah nama baru kecamatan yang juga menjadi salah satu akses menuju Gunung Bromo via Purwodadi ini. Sebelumnya, kecamatan tersebut bernama Nongkojajar.

Heri mengakui, membicarakan apel Nongkojajar tak ubahnya ironi. Betapa tidak, meski menjadi lokasi pertama penanaman, apel Pasuruan ini kalah populer dengan apel Batu.

Bahkan, ketika tanaman apel di Batu makin sedikit, masyarakat masih mengenalnya sebagai daerah penghasik apel. “Padahal, apel-apel yang disana, sebagian besar dipasok dari sini,” jelas Heri.

Heri mengakui, lemahnya strategi pengembangan dan pemasaran membuat apel-apel Nongkojajar kalah bersaing dengan Batu. “Berat karena memang tidak banyak dukungan,” jelas Heri.

Data Balitbangtan Kementerian Pertanian menyebutkan, sebelum 2000 jumlah apel di Batu sebanyak 3.107.195 pohon. Jumlah tersebut menghasilkan buah sebanyak 147 ribu ton per tahun.

Namun, pada 2004 mengalami penurunan sampai 1 juta pohon. Tahun 2004 pohon apel berjumlah 2 juta pohon dan hanya menghasilkan produktivitas 46 ribu ton per tahun.

Tidak adanya kesungguhan dari penentu kebijakan untuk mengangkat sektor ini menjadi penyebabnya. “Dengan posisi Pasuruan yang ada di jalur wisata, seharusnya itu bisa dilakukan. Tapi kan nyatanya tidak ada,” kata Son Taqdir Aulady, pemerhati sosial Kabupaten Pasuruan.

Son Taqdir mengatakan, satu mimpi sempat coba dibangun Pemkab dengan rencana membangun pasar agro di depan Kebun Raya Purwodadi. Akan tetapi, rencana itu hilang begitu saja tanpa progres berarti. Bahkan, lahan dimana pasar agro itu akan dibangun telah berganti menjadi tol.

“Padahal, itu menjadi salah satu upaya bagaimana potensi-potensi daerah itu bisa terangkat. Termasuk sektor pertanian,” terang Son Taqdir.

Celakanya, keluhan-keluhan seperti itu bukan sekali dua disampaikan. Bahkan, tiap kali terjadi perubahan pimpinan, baik pada tingkat OPD yang membawahi atau bupati sekalipun. Tetapi, kenyataannya tidak ada perubahan.

“Yang kita butuhkan, adalah strategi kongkret bagaimana mengangkat potensi atau produk-produk khas daerah yang itu bersentuhan langsung dengan masyarakat bawah serta petani. Dan itu terasa tidak sebanding dengan banyaknya penghargaan yang diraih Pemkab tiap tahun,” jelan Son Taqdir.

Setali tiga uang, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, Andri Wahyudi mengakui pemerintah terlalu lambat menyikapi perubahan atas kebijakan pusat. Sebagai contoh, terkait dengan tata ruang.

“Kita tidak pernah membayangkan kalau ternyata tol akan beroperasi secepat ini. Sementara, tata ruang kita belum menyesuaikan dengan perubahan-perubahan itu,” jelasnya.

Karena itu, Andri pun mendorong pemerintah untuk bergerak cepat. Paling tidak, bagaimana memadukan grand desain daerah dengan kebijakan strategis pemerintah pusat. “Kalau tidak begitu, kita akan ketinggalan terus,” cetus Andri. (*)