Selama Nataru, Sampah di Bromo Capai 1,5 Ton

914
Sejumlah relawan saat melakukan aksi bersih-bersih Gunung Bromo dari sampah selama libur panjang natal dan tahun baru. Foto: Forum Sahabat Gunung (FSG)

Sukapura (wartabromo.com) – Sampah masih menjadi masalah serius di kawasab wisata Gunung Bromo. Buktinya saat libur Natal 2019 dan tahun baru 2020 (Nataru), sedikitnya 1,5 ton sampah berhasil dikumpulkan petugas dan relawan.

Pasca libur panjang Nataru, sejumlah petugas dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) turun membersihkan sampah. Petugas juga dibantu oleh relawan dari berbagai komunitas, semisal Forum Sahabat Gunung (FSG) hingga TLCI Bromo Chapter.

Meski tanpa komandan khusus, petugas dan relawan memunguti sampah, memasukkannya ke kantong plastik. Sebab, sampah tersebut tersebar di hampir keseluruhan kawasan wisata Gunung Bromo.

Sekadar informasi di kawasan Bromo sendiri ada 16 titik, lumrahnya sebagai konsentrasi pengunjung menikmati liburan.

Kantong-kantong berisi sampah itu, kemudian dibawa ke tempat pembuangan sampah (TPS) di luar dari kawasan konservasi.

Aksi itu sendiri berakhir pada Sabtu, 4 Januari 2020, kemarin. Sekitar 1,5 ton sampah dipindahkan ke TPS.

TNBTS mencatat, volume sampah sebanyak itu terhitung selama 9 hari libur Nataru, yakni mulai 24 Desember 2019 hingga 1 Januari 2020.

Bila dihitung secara kasar, sampah yang dibuang di kawasan wisata alam ini sekitar 10 kilogram lebih per hari per titik.

“Kondisi tersebut menunjukkan masih kurangnya kesadaran pengunjung dan pelaku wisata untuk menjaga kelestarian kawasan Taman Nasional,” kata Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar TNBTS Novita Kusuma Wardani, Minggu (5/1/2020).

Ditegaskan Novita, BBTNBTS bersama komunitas-komunitas yang peduli lingkungan, rutin melakukan pembersihan sampah di kawasan ini.

Selain itu, petugas mencoba terus memberikan edukasi kepada pengunjung agar membawa sampahnya kembali untuk dibuang keluar.

“Tidak membuang sampah di kawasan, salah satunya melalui kegiatan Bromo Clean Challange,” imbuhnya.

Sementara itu, Henry Kurniawan selaku Sekretaris FSG, mengakui kesadaran wisatawan terhadap kebersihan di kawasan wisata masih kurang. Menurutnya, hal itu menjadi problem tersendiri di gunung nan eskaotis itu.

“Selain aksi bersih-bersih sampah, kami selalu melakukan edukasi dan sosialisasi kepada pengunjung agar tidak meninggalkan sampah. Tak hanya pengunjung, tetapi juga kepada rekan-rekan penyedia jasa layanan wisata,” ujar Henry. (saw/saw)