Bincang-bincang di Cafe Laut Semare

3534
Sekarang, semua warga pasti menyapa “Hallo” ke semua pengunjung yang datang ke CLS.

Laporan  Emil A

DULU, Desa Semare, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan identik dengan image “Desa Tawuran”. Tapi kini berubah, sudah berbenah menjadi “Desa Wisata” nan mempesona.

Adalah Café Laut Semare (CLS), sebuah konsep wisata pantai yang coba diangkatnya.

Tempat ini tak hanya menyajikan pemandangan hamparan hutan bakau maupun kegiatan mencari kerang kupang. Kuliner khas pesisir bisa dinikmati di atas café yang dibangun dari kayu ulin ini.

Yajid, Kepala Desa Semare mengatakan, sebelum terbangun CLS, kawasan di sekitar café dulunya digunakan sebagai dermaga untuk tambatan perahu (parkir perahu) nelayan.

Sampai kemudian muncul sebuah gagasan untuk menciptakan sebuah café di atas pantai.

Gayung bersambut, HCML (Husky-CNOCC Madura Limate), sebuah perusahaan Migas (Minyak dan gas), membantu membangunkan jogging track (jalur untuk pejalan kaki) sepanjang 200 meter.

Jogging track tersebut berbentuk jembatan kayu yang dihias dengan lampu warna-warni. Jembatan itulah yang menuntun setiap pengunjung ke café maupun spot-spot yang digunakan untuk berfoto dengan latar pantai.

“Dengan support HCML, kami jadi semangat untuk semakin mempercantik CLS,” ujarnya.

Lain jogging track, lain pula café. Khusus untuk pembangunan CLS, Yajid menegaskan pendanaannya diambil dari Dana Desa (DD) tahun 2018. Nominal yang dikeluarkan mencapai Rp300 juta.

Anggaran tersebut paling banyak digunakan untuk membeli puluhan kubik kayu ulin dari Sulawesi. Kayu itu dipilih, karena dinilai sangat kokoh dan kuat, meski menancap di tanah pantai.

“InsyaAllah kuat, karena semakin kena air dan cuaca panas, justru semakin kuat dan tahan lama,” jelasnya.

Setelah café dan jembatan terbangun, satu PR (pekerjaan rumah) lagi yang menjadi kekhawatiran sebelumnya. Yakni kemauan masyarakat pesisir untuk diajak maju dan tak lagi “kolot” seperti dulu.

Pihak desa nyaris putus asa dalam merubah pemikiran setiap warga yang selalu curiga dengan sebuah hal yang baru. Sangat awam, warga tak bisa langsung menerima pendatang, hingga perubahan pada lingkungan mereka tinggal, seperti rencana pengembangan café ini.

Beruntung, desa kembali mendapat bantuan. Di antaranya pelatihan character building (pembangunan karakter) dari CSR perusahaan. Hingga tak berapa lama, warga disulap menjadi lebih ramah, memiliki kecakapan menerima tamu yang berkunjung.

“Alot (susah sekali) Mas, karena tahu sendiri warga pesisir jelas gak sama dengan masyarakat pegunungan. Tapi, semua itu sudah kami lalui. Sekarang, semua warga pasti menyapa “Hallo” ke semua pengunjung yang datang ke CLS,” ungkap Yajid.

Sehari-hari, pihak desa mempekerjakan hampir 25 warga yang semuanya adalah remaja di Desa Semare. Remaja-remaja ini sebelumnya menganggur atau masyarakat kurang mampu. Mereka dirangkul supaya bisa mandiri dan berpenghasilan.

Menurut Yajid, setiap pekerja dibayar sebesar Rp1 juta per bulannya. Gaji tersebut diambil dari keuntungan dalam penjualan minuman yang diolah BumDes (Badan Usaha Milik Desa) ataupun parkir, anjungan, dan jasa perahu keliling yang diolah Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata).

“Kita pekerjakan para pemuda supaya mereka berdaya. Tidak boleh ada yang terlibat Narkoba. Kalau ketahuan, maka langsung kita berhentikan. Supaya mereka disiplin,” tegasnya.

Sekarang, CLS menjadi jujukan baru para penikmat travelling maupun wisatawan yang ingin kulineran di atas laut.

Dalam satu hari, jumlah kunjungan bisa mencapai 500 orang pada hari Sabtu, Minggu atau tanggal merah. Sedangkan hari Senin sampai Jumat, rata-rata mencapai 50-100 pengunjung.

Camat Kraton, Ridwan Harris berikan tanggapan positif dengan perubahan yang terjadi pada Desa Semare. Keberadaan CLS diyakini menjadi pemicu warga dalam menggerakkan roda perekomian secara berkelanjutan.

Hal itu terlihat dengan banyaknya rumah-rumah warga yang membuka warung Mamin (makanan minuman) maupun area parkir kendaraan.

Tak berhenti sampai di situ, Desa Semare yang dulunya kumuh, kini mulai bersih dan sudah ditetapkan sebagai Desa ODF (Open Defication Free) alias desa yang warganya tak lagi buang air besar sembarangan.

“Dulu banyak sampah, bahkan orang buang air besar di sungai, jamban atau dekat tambak. Tapi sekarang sudah nggak lagi. Semua warga punya WC sendiri,” ucapnya. ke halaman 2