Membangkitkan Pertanian Lewat Pesantren

474

Pajarakan (wartabromo.com) – Indonesia dikenal sebagai negara agraris dan bergantung pada hasil pertanian. Kekinian, bercocok tanam mulai ditinggal, lebih memilih pekerjaan di bidang lain. Pesantren pun dapat mengambil peran penting di sektor ini.

Hal itu mengemuka dalam Ngaji Tani Akbar dan Munas Santri Tani Nusantara di Gor Pondok Pesantren Zainul Hasan (PZH) Genggong Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, Sabtu, 25 Januari 2020.

Kondisi itu, menurut Wadir 2 Politeknik Pembangunan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Pada Kementrian Pertanian Republik Indonesia, Ismulhadi, sangat memprihatinkan.

Ia pun mengajak kalangan santri untuk membumikan kembali pertanian. Di mana sektor ini, masih memegang peranan penting dalam perekonomian bangsa.

“Belakangan ini para pelaku petani di Indonesia mulai banyak kehilangan naluri bercocok tanam. Bahkan, banyak pula yang beralih profesi dari dunia pertanian dan memilih pekerjaan lain,” ujar Ismulhadi.

Agar pertanian tak menjadi mitos atau legenda rakyat, ia mengajak kaum santri untuk ambil peran. Karena pesantren yang mempunyai akar kuat dalam pembangunan bangsa.

“Dengan adanya Ngaji Tani ini merupakan suatu terobosan baru. Sehingga nantinya bisa melahirkan para bibik-bibit baru atau generasi muda pertanian,” harapnya.

Hal serupa juga diungkapkan Rektor Universitas Brawijaya Malang, Prof, Dr. Nuhfil Hanani. Pesantren harus lebih maju dan lebih berani mengambil peran di sektor pertanian.

“Di samping untuk dijadikan sebagai media dakwah pesantren kepada para tani atau kepada masyarakat, juga bisa mengajari bagaimana cara bertani yang benar. Terlebih santri tani, juga harus menjadi target utama agar bisa tumbuh,” paparnya.

Sementara itu, Pengasuh PZH Genggong Pajarakan, KH. Moh. Mutawakkil Alallah mengatakan, sumber ekonomi suatu bangsa ada pada petani. Pekerjaan dasar petani yang bercocok tanam itu, merupakan terbentuknya suatu bangsa.

“Ini merupakan suatu terobosan baru untuk menguatkan perekonomian bangsa,” ujarnya.

Tentu gagasan Ngaji Tani itu, lanjutnya, tak bisa berjalan secara sepihak dan parsial. Artinya, perlu ada keterlibatan dan support dari pemerintah. Sehingga nanti, santri mampu mengelola dan kembangkan pertaniannya. Baik di lngkungan pesantren atau saat sudah kembali ke masyarakat.

“Perlu diketahui, sebenarnya, banyak pelaku tani dan nelayan yang ada saat ini, memiliki latar belakang santri. Mereka dulunya ada yang pernah mondok. Keadaan ini perlu dimanfaatkan dengan pembinaan. Agar bisa berkembang lebih besar dan menjadi penguat ekonomi bangsa,” tandas kiai murah senyum itu.

Ngaji Tani diselenggarakan pada 25-26 Januari. Pesertanya adalah santri-santri dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) yang berasal dari seluruh Indonesia. Seperti Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera dan lain sebagainya. (saw/ono)