Menikmati Udara Bersih Bromo

512
Setelah Sebulan Bebas dari Kendaraan Bermotor

Sukapura (wartabromo.com) – Udara bersih tanpa asap kendaraan bermotor kini menjadi dambaan setiap orang. Udara bersih itu, bisa dinikmati di kawasan Gunung Bromo Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.

Ya, selama perhelatan Bulan Kepitu dalam kalender Suku Tengger, kawasan konservasi itu bebas dari kendaraan bermotor. Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) selaku pengelola, memberlakukan sebulan tanpa kendaraan bermotor (car free month/CFM). Kecuali kendaraan patroli dan kedaruratan.

CFM diterapkan sejak 24 Januari lalu. Artinya, sudah sebulan ini udara di kawasan Bromo bebas asap kendaraan bermotor.

“Car free month ini betul-betul membawa experience yang baru. Menikmati Bromo dengan segala keindahan tanpa ada distraksi apapun. Tanpa kita sadari kita selama ini dipaksa dibiasakan dengan adanya jip, sepeda motor dan bau-bau asap knalpot, emisi dan seterusnya, dan seterusnya,” kata Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari, Minggu 23 Februari 2020.

Pengalaman baru itu, menurutnya perlu dibagi dan ditularkan kepada warga lainnya. Baik yang pernah ke Bromo maupun yang belum pernah berkunjung. “Udaranya sangat bersih. Secara kasat mata, indera kita merasakan udara yang sehat dan pemandangan tanpa penghalang apapun. Tanpa diganggu deru kendaraan,” lanjutnya.

CFM seharusnya menjadi buruan bagi wisatawan. Momen terbaik yang jarang didapatkan oleh wisatawan. Utamanya mereka yang tinggal di kota-kota besar. Yang sehari-hari penuh dengan hiruk pikuk, asap atau polusi adanya emisi kendaraan.

“Seharusnya menjadi trigger (pemicu) bagi wisatawan datang ke Bromo. Ini adalah best momen dan best season untuk menikmati Bromo. Saya mendorong adat, masyarakat, dan TNBTS untuk menerapkan car free month di lain waktu,” tandas bupati 2 periode itu.

Ketua Parisada Hindu Dharma (PHDI) Kabupaten Probolinggo, Bambang Suprapto mendukung penuh adanya CFM. Selama kurun sebulan ini, warga Suku Tengger menggelar Wulan Kepitu yang merupakan bulan yang suci, dilakukan dengan lebih khidmat.

Pada bulan itu, sesepuh tokoh masyarakat Tengger melakukan puasa bertujuan untuk menahan sifat duniawi. Selain juga fokus mendekatkan diri pada sang pencipta.

“Untuk tahun depan tetap dilaksanakan, wisata tetap seperti biasa. Pro kontra itu biasa, karena masih awal dan ini perlu evaluasi. Alam ini perlu diistirahatkan selama 1 bulan, leluhur perlu istirahat,” ujarnya secara terpisah. (saw/ono)