Wisata Bromo Tepar

1273

Sukapura (wartabromo.com) – Penutupan sementara lokasi wisata Gunung Bromo di kawasan Probolinggo karena wabah corona berdampak negatif. Jasa wisata di kawasan gunung eksotik itu, mati suri.

Sepi dan lengang. Itulah suasana di pintu masuk wisata Bromo, yang ada di Cemoro Lawang, Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Diketahui, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, menutup sementara kawasan wisata Gunung Bromo sejak 19 Maret 2020 lalu.

Hotel dan homestay di kawasan Bromo sepi.

Akibatnya hotel, restoran dan homestay, kosong melompong tak berpenghuni. Biasanya, tempat-tempat itu ramai dipenuhi pengunjung dari berbagai belahan dunia.

Sejak awal Maret 2020 hingga saat ini, kunjungan wisata sudah tidak ada sama sekali di kawasan tersebut. Para pelaku wisata, mulai dari pemandu, hotel, restoran, hingga penginapan karuan saja terhenti.

Matinya aktivitas wisata di kawasan Bromo, menjadi pukulan telak bagi pelaku wisata. Bila dihitung, secara keseluruhan merugi sampai miliaran rupiah. Penyebab mendasar selain penutupan sementara juga banyak wisatawan yang membatalkan kunjungan.

“Kalau jumlah pastinya tidak tahu ya, kan masing-masing hotel punya kalkulasi sendiri. Dari pihak kami Jiwa Jawa, jelas sangat signifikan penurunannya,” kata Pipin, Sales Marketing Jiwa Jawa Resort, pada Selasa (24/3/2020).

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Kebudayaan (Disporaparbud) Kabupaten Probolinggo, Sugeng Wiyanto mengakui jika dunia kepariwisataan di wilayahnya limbung. Perekonomian lesu karena jasa wisata tak berjalan sesuai harapan.

“Penutupan ini mengganggu dunia pariwisata, namun bukan hanya dunia pariwisata saja, tapi produksi ekspor impor juga. Nah, ini menjadi perhatian kami, bagaimana mencari solusinya. Mudah-mudahan waktu 14 hari ini, ada formulanya,” kata Sugeng.

Penutupan Bromo dilakukan melalui empat pintu masuk di empat kabupaten. Meliputi Kabupaten Malang, Lumajang, Pasuruan dan Probolinggo.
Kendati demikian, penutupan hanya berlaku bagi wisatawan atau aktivitas wisata saja.

“Warga suku tengger yang mendiami kawasan ini, masih beraktivitas seperti biasa. Dengan mematuhi sejumlah aturan baru yang diterapkan pemerintah. Seperti larangan bergerombol dan mengumpulkan massa,,” kata Kepala Resor Laut Pasir TNBTS, Subur Hari Handoyo. (lai/saw)