Memahami Peta Cluster Sebaran Covid-19 di Pasuruan-Probolinggo

3660
Sedikitnya 18 orang telah terkonfirmasi terjangkit virus Covid-19 di Pasuruan Probolinggo. Memahami riwayat perjalanan sangat penting untuk menentukan peta cluster penyebaran.

Oleh: Asad Asnawi

KABAR adanya warga di Kota dan Kabupaten Pasuruan-Probolinggo yang positif Covid-19 menghiasi media dalam sepekan terakhir. Total 18 kasus positif ditemukan dari keempat daerah ini dalam kurun hampir seminggu.

Kota Probolinggo adalah daerah yang pertama kali mengonfirmasi kasus korona di wilayahnya dengan jumlah 2 kasus. Menyusul kemudian Probolinggo kabupaten, dan Pasuruan Kota-Kabupaten.

Tiga daerah terakhir mengonfirmasi temuan kasus Covid-19 di hari yang sama; Jumat (10/04/2020). Rinciannya, Kabupaten Probolinggo 3 kasus, Kota Pasuruan 2 kasus (satu di antaranya meninggal), dan Kabupaten Pasuruan 3 kasus.

Sehari kemudian, Kabupaten Pasuruan-Probolinggo menyampaikan adanya tambahan. Masing-masing 7 dan 1 kasus. Dengan demikian, secara kumulatif, kasus Covid-19 dari empat daerah ini 18 kasus.

Banyaknya kasus tersebut sekaligus mengonfirmasi apa yang dikhawatirkan sebelumnya. Terutama, setelah munculnya kasus pertama di Blitar yang teridentifikasi dari kluster Bimtek Haji.

Bimtek haji memang menjadi kluster paling besar penyebaran Covid-19 di Jawa Timur. Berkelanjutan, daerah-daerah terus mengonfirmasi kasus positif yang terkait Bimtek.

Setelah Blitar, ada juga Lamongan yang menemukan kasus positif cukup banyak terkait kluster ini. 10 kasus sekaligus. Sebagian besar merupakan peserta bimtek. Tapi, ada juga yang positif usai menjalin kontak dengan peserta ketika di rumah.

Di Pasuruan dan Probolinggo, dari belasan kasus yang terkonfirmasi, belakangan terungkap dari kluster ini. Empat kasus di kabupaten Probolinggo misalnya. Keempatnya disebut sebagai peserta bimtek dari unsur kesehatan.

Begitu juga di Kota Probolinggo. Dua kasus positif, 1 merupakan peserta bimtek sebelum akhirnya menular ke anaknya. “Dua-duanya kondisinya baik. Masih menjalani isolasi di rumah sakit,” kata Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin.

Dengan kata lain, khusus Probolinggo, baik kota maupun kabupaten, seluruhnya merupakan bagian dari kluster besar Bimtek Haji Surabaya 9-18 Maret lalu.

Bagaimana dengan Pasuruan? Lebih kompleks. Sebab, dari 12 kasus positif yang ada, tidak semuanya terkait dengan kluster besar di Jatim. Ada juga kluster-kluster lain yang turut berkontribusi pada kasus positif kedua daerah ini.

Kota Pasuruan misalnya. Dua kasus yang ada, satu diantaranya bagian dari kluster bimtek. Sedang satunya, terkait kluster Jakarta.

“Tracing sudah dilakukan. Dan mereka yang pernah kontak saat ini menjalani isolasi. Ada yang mandiri, ada yang di rumah sakit,” kata Plt. Kepala Dinas Kesehatan, Shierly M.

Ketua Rumpun Tracing Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jawa Timur, dr. Kohar Hari Santoso, sebagaimana dikutip dari SuaraSurabaya.net, mengatakan, hasil tracing yang dilakukan menemukan sedikitnya 45 ribu lebih orang masuk kategori Orang Dalam Risiko (ODR).

Dari angka tersebut, 415 diantaranya merupakan peserta Pelatihan Calon Petugas Ibadah Haji 2020 di Asrama Haji, Sukolilo, Surabaya 9-18 Maret lalu. 166 berasal dari Kemenag. Sisanya, dari Kemenkes. Terdiri dari dokter dan perawat.

Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Pasuruan telah mengonfirmasi adanya kasus positif yang berkaitan dengan kluster Bimtek. Tapi, berapa angka pastinya, tidak diungkapkan.

“Kalau untuk yang berangkat mengikuti Bimtek ada 14 orang. Terdiri dari Kemenag dan tenaga kesehatan,” kata Juru Bicara Satgas Covid-19 Anang Saiful Wijaya, Minggu (12/04/2020).

Sebagai catatan, saat pengumuman 3 kasus positif pertama pada Jumat (10/04/2020) lalu, Satgas mengakui bila ketiganya berkaitan dengan kluster Bimtek Surabaya.

Hal itu juga dibenarkan sumber di lingkungan Kemenag setempat. “Ada 7 yang sempat dikarantina di rumah sakit. Tapi, sekarang tinggal dua yang masih disana,” ujarnya.

Bagaimana dengan 7 kasus positif yang lain? Sejauh ini belum diperoleh riwayat perjalanan atau dari kluster mana status positif itu didapat si pasien.

Yang pasti, satu diantaranya berkaitan dengan kluster Jakarta lantaran yang bersangkutan acapkali bolak-balik Jakarta-Pasuruan. Sementara satu lainnya, merupakan kluster lain (tidak terkait Bimtek dan Jakarta).

“Lainnya ada juga yang berkaitan dengan pelatihan di Surabaya itu. Lainnya masih kami telusuri,” kata Anang singkat.

Penelusuran memang menjadi hal mutlak guna menutup mata rantai penyebaran Covid-19. Hal itu untuk mengetahui pola dan potensi penyebaran virus yang telah merenggut banyak nyawa itu. (*)