Kurang Sosialisasi, Warga Sindetlami Tolak Gedung SD Jadi Tempat Karantina

1304

Besuk (wartabromo.com) – Warga Dusun Krajan, Desa Sindetlami, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo menolak gedung SDN Sindetlami 1 dijadikan gedung karantina, Rabu (15/4/2020). Mereka takut tertular virus corona yang kini mewabah.

Warga mendatangi gedung sekolah pada pagi hari. Mereka juga memasang tulisan penolakan gedung sekolah dijadikan lokasi karantina tingkat desa bagi para pemudik. Tempat karantina itu dikhawatirkan menjadi tempat penyebaran Covid-19, baik kepada warga dan para siswa yang nantinya akan masuk sekolah.

“Ini tempatnya anak sekolah, bukan tempatnya penyakit. Semua warga menolak sekolah dijadikan karantina. Kami minta kebijakan Pak Tinggi (kepala desa, red). Datang dia ke sini,” kata Hosen, salah satu warga.

Warga mengaku tidak tahu jika gedung sekolah tersebut akan dijadikan sebagai lokasi karantina. Pasalnya, pemerintah desa setempat, pemerintah kecamatan, serta bidan desa tidak menjalin komunikasi sama sekali dengan warga Dusun Krajan.

“Tdak ada koordinasi dengan warga sini. Katanya semalam memang ada rapat sama (pihak) kecamatan. Tapi warga Dusun Krajan sini tidak diundang. Kepala desanya juga tidak turun ke warga,” tuturnya.

Kepala Desa Sindetlami, Sudaipi membenarkan jika gedung SDN Sindetlami 1 akan dijadikan tempat karantina. Hal itu berdasarkan kesepakatan rapat pada Selasa malam.

Rapat itu dihadiri oleh Pemdes, BPD, bidan desa, Babinsa, dan Bhabimkamtimbas. Selain juga melibatkan Komite Sekolah, tokoh masyarakat, termasuk ketua RW dan RT.

Gedung SDN Sindetlami 1 dipilih karena mayoritas pemudik berasal dari Dusun Krajan dan Taman. Gedung tersebut juga dikelilingi tembok, berada dipinggir jalan, memudahkan akses jika ada evakuasi.

Berbeda dengan gedung milik SDN Sindetlami 2 yang tidak tertembok dan sulit diakses kendaraan bermotor.

“Tadi malam dalam rapat itu sudah saya sampaikan, bahwa itu salah satu alternatif. Kalau warga tidak mau, jangan dipaksakan. Dalam rapat itu, Haji Sulaiman (tokoh masyarakat) pak Sanidin (komite sekolah) menyanggupinya untuk bicara ke masyarakat,” ujar Sudaipi.

Tersirat Sudaipi menyayangkan penolakan ini. Dikatakannya, sikap pemerintah desa saat ini lebih pada ingin mendukung arahan pemerintah daerah maupun pusat, terkait pola penanganan pencegahan tersebarnya virus corona.

“Masyarakat harusnya tahu, kalau yang dikarantina bukanlah orang yang positif. Ini upaya agar tidak ada warga yang terjangkit,” kata pria berkumis tebal itu.

Miskomunikasi dan kurangnya sosialisasi diakui oleh Camat Besuk, Puja Kurniawan. Rapat yang berlangsung pada malam hari itu, membuat sosialisasi ke warga kurang maksimal, sehingga mendapat penolakan dari warga.

“Aspirasi warga maka kami harus sikapi dengan bijak,” katanya secara terpisah.
Rapat lanjutan menyikapi penolakan warga kemudian digelar lagi dengan menghadirkan perwakilan warga yang menolak. Pembahasan rapat masih seputar lokasi karantina di tingkat desa untuk warga Sindetlami yang nekat mudik.

“Agar tidak menimbulkan polemik, sementara lokasi karantina-nya kami pindah ke balai desa. Sambil menunggu perlahan-lahan, kami akan memberikan edukasi dan pemahaman kepada warga terkait virus Covid-19 bersama bidan desa dan ketua BPD Sindetlami,” terangnya.

Ia juga meminta Satgas Covid-19 Desa Sindetlami mendata kembali perantau yang akan pulang. Termasuk mengimbau keluarga masing-masing untuk menunda mudik sampai batas waktu yang ditentukan oleh pemerintah.

“Pemudik harus didata dan tidak boleh sampai lolos. Mereka harus dikarantina selama 14 hari. Karena mereka berisiko membawa Covid-19 dari daerah zona merah yang dapat menulari keluarga dan warga lainnya,” tegas Puja. (cho/saw)